Kapal Sea Watch 3 dalam operasi penyelamatan imigran di lepas pantai Libya, Laut Mediterania, 19 Januari 2019. (Foto: AFP/FEDERICO SCOPPA)
Kapal Sea Watch 3 dalam operasi penyelamatan imigran di lepas pantai Libya, Laut Mediterania, 19 Januari 2019. (Foto: AFP/FEDERICO SCOPPA)

Kebijakan Eropa Soal Imigran 'Hanyut' di Laut

Internasional imigran gelap uni eropa
Arpan Rahman • 20 Januari 2019 18:12
London: "Kami memiliki pelabuhan yang aman," kata seorang anggota kru kepada puluhan pencari suaka yang berdesak-desakan di sebuah kabin kapal penyelamat milik Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Sea-Watch 3. Setelah hampir tiga pekan terombang-ambing di Laut Mediterania, sebuah kabar baik akhirnya datang. "Kita akan berlabuh," jelasnya. Beberapa detik kemudian, kabin kapal riuh dengan perasaan lega dan sukacita.
 
Kisah tersebut adalah akhir dari sebuah cobaan berat bagi 49 imigran wanita, pria, dan anak-anak pekan lalu di atas kapal Sea-Watch 3 dan beberapa lainnya milik LSM Professor Albrecht Penck. Semua kapal itu akhirnya berlabuh di Malta.
 
Semua imigran itu diselamatkan pada Desember tahun lalu setelah melarikan diri dari Libya. Tetapi kapal-kapal berisi imigran itu tidak diizinkan berlabuh di pelabuhan Eropa mana pun di sekitar Mediterania.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ketika hitungan hari berganti menjadi pekan, sejumlah negara Eropa berjanji menerima para imigran itu, tapi dengan catatan, saat mereka semua sudah memasuki kawasan melalui pelabuhan Italia atau Malta. Tetapi, Italia menolak mengizinkan kapal berisi imigran berlabuh di pelabuhannya, sementara Malta menawarkan kerja sama dengan syarat bahwa negara-negara Eropa lainnya setuju mengambil 249 imigran yang telah diselamatkan Malta dalam operasi terpisah.
 
Diwarnai berbagai laporan tentang adanya sejumlah anak imigran yang jatuh sakit, atau seorang pria yang nekat melompat dari kapal untuk berenang menuju pantai, kemarahan komunitas internasional mengenai situasi di Mediterania terus meningkat. Bahkan Paus Fransiskus pernah menyerukan "kepada para pemimpin Eropa untuk menunjukkan solidaritas nyata" bagi para imigran.
 
Baca:Paus Fransiskus Minta Negara Eropa Terima Imigran
 
Setelah terjadi banyak langkah dan manuver politik seputar kasus imigran ini, kapal-kapal yang berlayar di Mediterania itu akhirnya diizinkan berlabuh.
 
Di bawah hukum internasional, orang yang diselamatkan di laut harus dibawa ke tempat aman, di mana mereka harus diperlakukan secara manusiawi dan ditawari peluang untuk mendapat suaka. Ini artinya, siapa pun yang diselamatkan di Mediterania harus dibawa ke Eropa, karena pemulangan hanya akan membuat mereka terancam ditahan atau bahkan disiksa otoritas setempat.
 
Dalam upaya mencegah kedatangan imigran, sejumlah negara Eropa mencari cara untuk menghindari kewajiban di bidang keimigrasian. Caranya, sejumlah negara itu memberikan dukungan kepada Penjaga Pantai Libya untuk mencegat para imigran di laut dan mengembalikan mereka ke Libya.
 
Berbagai dukungan ini termasuk menyediakan kapal, pelatihan, dan bantuan perencanaan operasi pencarian dan penyelamatan otoritas Libya di Mediterania. Dukungan ini membuat otoritas Libya bertanggung jawab atas operasi penyelamatan, termasuk dalam hal menginstruksikan harus ke negara mana kapal-kapal LSM itu menurunkan imigran.
 
Dukungan sejumlah negara Eropa untuk Libya ini menciptakan kebingungan di kalangan kapal-kapal LSM di Mediterania. Para imigran tidak dapat dibawa ke Libya karena hal itu merupakan pelanggaran hukum dan alasan keamanan, dan juga sulit masuk ke Eropa karena sejumlah negara menolak mereka.
 
Strategi lain yang diterapkan sejumlah negara Eropa dalam mencegah kedatangan imigran adalah mengurangi, atau bahkan menarik sama sekali kapal-kapal patroli. Sejumlah LSM kemudian datang mengisi kekosongan yang ditinggalkan kapal-kapal patroli tersebut dan menyelamatkan banyak imigran, termasuk di perairan Libya.
 
Kapal-kapal LSM ini tidak hanya ditolak untuk berlabuh di sejumlah negara Eropa, tapi juga dipersulit untuk menyelamatkan imigran lewat tuduhan kasus kriminal dan rintangan birokrasi.
 
Contoh terbaru adalah saat otoritas Spanyol mencegah kapal LSM Proactiva Open Arms untuk berlayar dari Barcelona ke Mediterania tengah pada Senin 14 Januari.
 
Sejumlah negara Eropa enggan menerima para imigran yang diselamatkan di laut. Mereka tidak ingin bertanggung jawab untuk mereka semua, dan juga enggan memberikan kesempatan mendapat suaka.
 
Biasanya, sebuah negara Eropa yang didatangi imigran bertanggung jawab memeriksa semua klaim suaka dan menampung mereka selama proses pengajuan. Para imigran yang berhasil mendapat suaka kemudian diintegrasikan ke tengah masyarakat, sementara yang ditolak dipulangkan ke negara masing-masing. Negara-negara pesisir di Eropa sering berurusan dengan persoalan semacam ini, karena belum ada sistem berbagi tanggung jawab seperti itu di Benua Biru.
 
Kebutuhan mereformasi aturan suaka di Eropa -- yang disebut 'DublinRegulation' -- telah diakui banyak pihak. Namun terlepas dari upaya Parlemen Uni Eropa untuk mengenalkan reformasi keimigrasian dan suaka, sejauh ini belum terjadi perubahan berarti karena adanya penentangan dari beberapa negara anggota.
 
Alih-alih menemukan cara pragmatis untuk mengelola keimigrasian dengan lebih baik, sejumlah negara anggota Uni Eropa justru cenderung sepakat dalam satu gagasan, yakni mencegah kedatangan imigran. Sikap seperti ini membuat banyak imigran terjebak di kapal penyelamat selama berpekan-pekan di tengah laut.
 
"Saat ini bukanlah momen-momen terbaik di Eropa," kata Dimitris Avramopoulos, Komisaris Uni Eropa untuk Urusan Keimigrasian, Dalam Negeri, dan Kewarganegaraan mengenai situasi Sea Watch pekan lalu. "Uni Eropa menjunjung nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas. Dan jika nilai-nilai kemanusiaan dan solidaritas tidak dijunjung tinggi, itu bukan Eropa," lanjut dia.
 
Kala Eropa bersatu dalam upaya melimpahkan tanggung jawab mengenai keimigrasian ke negara-negara lain, Benua Biru masih terbelah dalam ihwal mencapai solusi terbaik. Kita perlu melawan retorika yang seolah-olah mencitrakan buruk para imigran, yang pada kenyataannya hanya berusaha mencari keselamatan dan kehidupan yang lebih baik.
 
Banyak imigran perempuan, laki-laki, dan anak-anak di luar sana yang akan menderita, kecuali jika Eropa menyepakati kebijakan keimigrasian yang sejalan dengan hukum internasional, serta sistem adil untuk berbagi tanggung jawab di antara negara-negara anggota Uni Eropa.
 
(Opini ini dikutip Medcom.id dari laman euronews, Jumat 18 Januari 2019; ditulis oleh Matteo de Bellis, Peneliti Migrasi Amnesty International.)
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif