Uni Eropa Dianggap Bersalah Terkait Gelombang Kematian Imigran

Arpan Rahman 10 Agustus 2018 09:51 WIB
imigran gelap
Uni Eropa Dianggap Bersalah Terkait Gelombang Kematian Imigran
Imigran gelap nekat melintasi laut demi mencari kehidupan lebih baik (Foto: AFP).
London: Kebijakan negara-negara Uni Eropa (UE), termasuk Italia dan Inggris Raya, harus disalahkan atas kematian lebih dari 700 imigran yang berusaha memasuki Eropa di seluruh Mediterania sejak Juni. Hal ini disampaikan Amnesty International.
 
Laporan badan amal, berjudul 'Antara Iblis dan Laut Biru: Eropa Gagal Pengungsi dan Imigran di Mediterania Tengah' ('Between the devil and the deep blue sea: Europe fails refugees and migrants in the Central Mediterranean'), mengklaim bahwa 564 orang ditemukan tewas atau dilaporkan hilang pada Juni dan 157 lainnya pada Juli.
 
Matteo de Bellis, peneliti suaka dan migrasi di Amnesty, berkata: "Meskipun terjadi penurunan jumlah orang yang mencoba menyeberangi Laut Tengah dalam beberapa bulan terakhir, jumlah kematian di laut telah melonjak."
 
"Tanggung jawab atas meningkatnya jumlah korban jiwa jatuh tepat pada pemerintah Eropa yang lebih peduli dengan melindungi orang-orang yang keluar dari wilayah mereka ketimbang menyelamatkan nyawa," tambahnya, seperti disitat dari Sky News, Jumat 10 Agustus 2018.
 
Amnesty menaruh lonjakan itu pada perubahan kebijakan Italia sejak pemerintah kerakyatan sayap kanan memutuskan menindak imigrasi ilegal pada Juni. Bulan itu, Italia mulai menolak mengizinkan kapal migran untuk menurunkan penumpangnya.
 
Termasuk Aquarius, kapal penyelamat yang mengangkut 630 orang termasuk anak-anak, wanita hamil, dan beberapa orang terluka yang menderita luka bakar kimia dan hipotermia.
 
Penolakan terus berlanjut ketika sikap Italia lebih keras, yang berarti Roma, menurut laporan itu, melanggar hukum laut dan kewajibannya di bawah hukum hak asasi manusia internasional dan hukum pengungsi.
 
Kebijakan tersebut juga telah memperlihatkan penggandaan jumlah orang yang dikerangkeng di pusat-pusat penahanan yang penuh sesak di Libya, dari sekitar 4.400 pada Maret menjadi lebih dari 10.000 -- termasuk sekitar 2.000 wanita dan anak-anak -- pada akhir Juli.
 
Hampir semua dari mereka dibawa ke pusat itu setelah diambil di laut dan dikembalikan ke Libya oleh Penjaga Pantai Libya, yang diperlengkapi, dilatih, dan didukung oleh pemerintah Eropa.
 
Laporan itu menyatakan bahwa di Libya: "Pengungsi dan imigran secara rutin didera pelanggaran menghebohkan oleh pejabat Libya, kelompok bersenjata dan kelompok kriminal."
 
"Mereka menderita penyiksaan dan perlakuan sewenang-wenang lainnya dan penahanan sewenang-wenang dalam kondisi yang memprihatinkan, pemerasan, kerja paksa, dan pembunuhan -- yang menimbulkan impunitas total," imbuh laporan ini.
 
De Bellis mengatakan: "Pemerintah Eropa berkolusi dengan pihak berwenang Libya untuk menampung pengungsi dan imigran di Libya, meskipun terjadi pelanggaran mengerikan yang mereka hadapi di tangan Penjaga Pantai Libya dan di pusat-pusat penahanan di Libya."



(FJR)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id