Gerakan rompi kuning di kota Lyon, Prancis, 9 Februari 2019. (Foto: AFP/ALEX MARTIN)
Gerakan rompi kuning di kota Lyon, Prancis, 9 Februari 2019. (Foto: AFP/ALEX MARTIN)

Dua Faksi Rompi Kuning Bentrok di Lyon Prancis

Internasional prancis Emmanuel Macron
Arpan Rahman • 11 Februari 2019 14:49
Lyon: Bentrokan berdarah antara dua faksi gerakan "Rompi Kuning" terjadi di kota Lyon, Prancis, akhir pekan kemarin. Bentrokan ini menyoroti adanya perpecahan di internal rompi kuning, yang awalnya dibentuk untuk menentang rencana penaikan pajak bahan bakar minyak di Prancis.
 
Puluhan pendukung dua faksi, yakni Sayap Kanan dan Kiri, berkelahi dengan menggunakan tangan kosong, melemparkan batu dan mengayun-ayunkan tongkat satu sama lain.
Dikutip dari laman Telegraph, Minggu 10 Februari 2019, bentrokan terjadi malam hari usai demonstrasi 'rutin' rompi kuning yang digelar setiap Sabtu sejak pertengahan November 2018.
 
Indikasi perpecahan dalam tubuh rompi kuning sudah terlihat sejak beberapa bulan lalu. Hal ini terlihat dari berubahnya tuntutan pengunjuk rasa, yang awalnya hanya memprotes rencana penaikan pajak BBM menjadi penentangan penuh terhadap Presiden Emmanuel Macron.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Unjuk rasa rompi kuning tetap terjadi meski Macron memutuskan menunda rencana penaikan pajak BBM. Macron juga berusaha meredam kericuhan dengan menggelar debat nasional, meski hasilnya kurang efektif.
 
Dalam gerakan rompi kuning pekan ke-13 Sabtu kemarin, bentrokan pedemo dengan aparat terjadi di beberapa kota di Prancis. Sejumlah demonstran diketahui membakar beberapa mobil, memecahkan kaca di deretan toko serta bank.
 
Di Montpellier, seorang bocah berusia 12 tahun ditangkap karena dituduh mengarahkan ketapel ke arah markas besar polisi. Sementara di ibu kota Paris, seorang pengunjuk rasa kehilangan jari-jarinya saat berusaha menjauhkan 'granat karet' aparat.
 
Baca:"Rompi Kuning" Kecam Penggunaan Peluru Karet Polisi
 
Terdapat pula serangan pembakaran terhadap sebuah rumah milik anggota Majelis Nasional Prancis, Richard Ferrand. Dia mengatakan serangan pada Jumat malam itu adalah bentuk dari "intimidasi" massa terhadap parlemen Prancis.
 
Ferrand khawatir tren kekerasan ini akan menjadi semacam budaya dalam dunia perpolitikan Prancis.
 
Sekitar 55 ribu pengunjuk rasa mengikuti gerakan rompi kuning pekan ke-13 pada Sabtu kemarin, dengan 5.000 di antaranya berada di Paris. Jumlah massa menurun dari beberapa pekan sebelumnya.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif