90 Persen Anak-anak di Dunia Hirup Udara Beracun
Ilustrasi oleh Medcom.id
Jenewa: Udara beracun memiliki dampak yang menghancurkan bagi miliaran anak di seluruh dunia. Merusak kecerdasan mereka dan menyebabkan ratusan ribu kematian, menurut laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
 
Studi ini menemukan bahwa lebih dari 90 persen pemuda dunia -- 1,8 miliar anak -- menghirup udara beracun, menyimpan bom waktu kesehatan umum untuk generasi berikutnya. WHO mengatakan, para ahli medis di hampir setiap bidang kesehatan anak mengungkap bukti baru dari skala krisis baik di negara kaya maupun miskin. Mulai dari berat lahir rendah sampai perkembangan saraf yang buruk, asma hingga penyakit jantung.
 
"Udara yang tercemar meracuni jutaan anak dan menghancurkan hidup mereka. Ini tidak bisa dimaafkan -- setiap anak harus bisa menghirup udara bersih sehingga mereka dapat tumbuh dan memenuhi potensi mereka," kata Dr Tedros Adhanom, Direktur Jenderal WHO, seperti dilansir dari Guardian, Selasa 30 Oktober 2018.
 
Temuan ini bertepatan dimulainya konferensi global pertama tentang polusi udara dan kesehatan di Jenewa. Diwarnai pencanangan hari aksi tingkat tinggi di mana berbagai negara dan kota diharapkan membuat komitmen baru demi mengurangi polusi udara.
 
Studi WHO menemukan bahwa anak-anak sangat rentan terhadap polusi udara karena polutan sering lebih terkonsentrasi lebih dekat ke permukaan tanah. Ia menambahkan bahwa organ mereka yang sedang berkembang dan sistem saraf juga lebih rentan terhadap kerusakan jangka panjang daripada orang dewasa.
 
"Polusi udara mengerdilkan otak anak-anak kita, mempengaruhi kesehatan mereka dengan cara yang lebih dari yang kita duga," kata Dr Maria Neira, Direktur WHO untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan.
 
Studi ini menemukan bahwa 600.000 anak meninggal akibat infeksi pernafasan bawah akut yang disebabkan oleh udara kotor dan 93 persen terpapar salah satu polutan yang paling merusak -- PM2.5. Di negara-negara miskin, 98 persen dari semua anak balita terpapar PM2.5 di atas ambang batas WHO.
 
Wanita hamil sangat rentan, dengan udara kotor terkait dengan anak-anak prematur dan kurus. Polusi udara juga meningkatkan risiko penyakit kronis seperti penyakit kardiovaskular di kemudian hari.
 
Neira mengatakan banyak cara langsung untuk mengurangi emisi polutan berbahaya, termasuk "mempercepat peralihan memasak yang bersih dan memanaskan bahan bakar dan teknologi, serta mempromosikan penggunaan transportasi yang lebih bersih, perumahan hemat energi, dan perencanaan kota".
 
"Kami sedang mempersiapkan landasan untuk teknologi pembangkit listrik rendah emisi, bersih, lebih aman, dan pengelolaan sampah kota yang lebih baik," cetusnya.
 
Neira mengatakan solusinya adalah agenda kesehatan masyarakat mendasar yang akan memiliki banyak manfaat bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.



(FJR)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id