Ursula von der Leyen (kiri) terpilih sebagai Presiden Komisi Eropa. (Foto: AFP).
Ursula von der Leyen (kiri) terpilih sebagai Presiden Komisi Eropa. (Foto: AFP).

Parlemen Eropa Kecam Pemilihan Presiden Komisi Secara Tertutup

Internasional uni eropa
Arpan Rahman • 05 Juli 2019 16:18
Brussels: Sejumlah kelompok politik Parlemen Eropa (EEP) bersatu mengutuk pemilihan presiden Komisi Eropa. Mereka menyebut proses itu sebuah penyelesaian yang tidak demokratis oleh beberapa pemerintah nasional.
 
Para pemimpin Uni Eropa memilih Ursula von der Leyen untuk menggantikan Jean-Claude Juncker sebagai pemimpin cabang eksekutif Uni Eropa. Kendati faktanya dia tidak ada di kertas suara sebagai kandidat dan tidak memiliki manifesto.
 
Dewan Eropa secara efektif mengabaikan spitzenkandidat parlemen Eropa, atau sistem ‘calon kandidat’, yang seharusnya menyuntikkan elemen demokrasi ke dalam pemilihan presiden komisi. Alih-alih mencalonkan menteri pertahanan, kurang dikenal di luar Jerman.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya tidak akan memberi selamat pada dewan. Presiden Tusk, saya tidak dapat mendukung bagaimana hal-hal ini dilakukan dan kurangnya rasa hormat yang Anda tunjukkan kepada lembaga lain," kata Gonzalez Pons, juru bicara kelompok EPP yang dominan di parlemen. Kritik EPP terhadap proses ini mengemuka karena Von der Leyen, anggota partai CDU Angela Merkel, sebenarnya adalah anggota EPP.
 
"Masa depan Eropa tidak dapat lagi diputuskan secara tertutup. Proses spizenkandidat bukan tentang satu orang atau satu nama -- warga Eropa ingin memilih orang yang memerintah Eropa. Ini bukan revolusioner, ini adalah demokrasi,” ujar Pons.
 
Iratxe Garcia Perez, pemimpin kelompok terbesar kedua, sosialis sayap kiri, mengatakan para pemimpin UE tidak dapat "datang ke sini dan hanya menaruh posisi dewan dan berkata bahwa kita harus memilihnya".
 
"Kami percaya seharusnya Frans Timmermans yang memimpin komisi karena dia adalah tokoh yang bisa mencapai mayoritas suara di parlemen ini dan juga karena aturan demokratis yang telah kita bangun," tambahnya, disingkap dari The Independent, Kamis 4 Juli 2019.
 
Dacian Ciolos, pemimpin kelompok liberal Pembaruan Eropa yang dibentuk oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, menyerukan konvensi konstitusional guna merombak proses.
 
Dia katakan kelompoknya akan mengusulkan "sebuah konferensi dengan durasi yang cukup, dua tahun, dua setengah tahun" untuk mendemokratisasi proses pemilihan di UE "sehingga pada pemilihan berikutnya kita memiliki mekanisme pada tempatnya".
 
Tetapi Donald Tusk, Presiden Dewan Eropa, yang tampak tidak nyaman berpidato di parlemen, membela pendekatan yang diambil oleh dewan.
 
"Untuk beberapa hal parlemen mewakili demokrasi Eropa asli karena anggotanya dipilih langsung, sementara yang lain itu adalah Dewan Eropa karena legitimasi demokrasi yang kuat dari para pemimpin. Perselisihan seperti itu tidak masuk akal karena kedua institusi tersebut demokratis," katanya kepada anggota parlemen.
 
Meskipun timbul kehebohan, belum terlihat apakah anggota parlemen -- yang secara teknis memiliki hak veto pada penunjukan -- akan memblokir pilihan dewan.
 
Philippe Lamberts, salah satu pemimpin kelompok Hijau, memperingatkan sesama anggota parlemen karena tidak menentang dewan. ”Sangat mudah untuk mengkritik para kepala negara dan pemerintah tetapi saya ingin mengatakan kepada Anda semua di dewan ini bahwa jika parlemen dipilih dari episode ini dalam posisi yang lebih lemah maka hanya dirinya sendiri yang harus disalahkan,” tegas Lamberts.
 
Di bawah sistem spitzenkandidat yang disetujui oleh parlemen, setiap kelompok politik mencalonkan seorang kandidat, mempertahankan sebuah manifesto yang dapat diidentifikasi, untuk presiden komisi. Kandidat dari kelompok pemenang -- atau yang dapat memimpin mayoritas di parlemen -- akan menjadi pemimpin eksekutif UE. Namun, para pemimpin Uni Eropa menolak memberlakukan sistem itu menjadi undang-undang dan mengabaikannya ketika saatnya tiba -- guna memilih pemimpin puncak pada KTT tiga hari di Brussels, Belgia.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif