Uni Eropa tak Bisa Hidup Tanpa Kelapa Sawit dan Sebaliknya

Marcheilla Ariesta 25 Mei 2018 16:05 WIB
cpouni eropa
Uni Eropa tak Bisa Hidup Tanpa Kelapa Sawit dan Sebaliknya
Mahendra Siregar (kedua dari kanan) sebut UE tak bisa hidup tanpa kelapa sawit begitu pula dengan Indonesia (Foto: Marcheilla Ariesta).
Jakarta: Direktur Eksekutif Dewan Negara Produsen Kelapa Sawit (CPOPC) Mahendra Siregar mengatakan Uni Eropa tidak bisa hidup tanpa kelapa sawit, begitu pula sebaliknya dengan Indonesia dan Malaysia. Menurut dia, masalah kelapa sawit merupakan tantangan dunia.
 
Baca juga: Uni Eropa Klaim Hanya Kurangi Penggunaan Kelapa Sawit.
 
Mahendra menjelaskan, Indonesia bukan satu-satunya negara yang memproduksi kelapa sawit. Hingga saat ini, ada sekitar 12 negara tersebar di berbagai belahan dunia, termasuk Afrika dan Amerika.
 
"Ini adalah tantangan global, dan jika Uni Eropa menganggap perlu untuk menyetop kelapa sawit, maka mereka akan membahayakan dunia," ucapnya dalam diskusi mengenai kelapa sawit di Ayana Midplaza Hotel, Jakarta, Jumat 25 Mei 2018.
 
Menurut dia, kelapa sawit juga memiliki hak tersendiri, di mana di bawahnya ada petani kecil yang bergantung hidup. Sawit juga perlu ditingkatkan produktivitasnya.
 
Pemerintah Indonesia, bahkan Presiden Joko Widodo menaruh perhatian pada masalah kelapa sawit ini. Mahendra senada dengan akil Menko Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator Bidang Ekonomi dan Kelautan Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan bahwa banyak masyarakat kecil, para petani sawit yang bergantung pada tumbuhan ini.
 
"Kelapa sawit tak bisa dilepaskan dari Uni Eropa dan demikian sebaliknya, Uni Eropa tak lepas dari kelapa sawit," imbuhnya.
 
Kelapa sawit tengah menjadi perundingan antara Indonesia, Malaysia dengan Uni Eropa. Rencana Uni Eropa untuk melarang penggunaan kelapa sawit cukup membuat Indonesia dan Malaysia ketar-ketir.
 
Baca juga: Terkait CPO, Uni Eropa Harus Adil dalam Ambil Keputusan.
 
Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara produksi kelapa sawit terbesar dunia. Dua negara ini mati-matian agar kelapa sawit tetap bisa diekspor ke negara-negara di Uni Eropa.
 
Namun, Uni Eropa merasa kelapa sawit buruk bagi lingkungan, terutama hutan dan berencana untuk mengganti produk kelapa sawit yang digunakan sebagai bahan bakar dengan biofuel.



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id