Peluncur roket milik militer Ukraina siap lawan pemberontak (Foto: AFP).
Peluncur roket milik militer Ukraina siap lawan pemberontak (Foto: AFP).

Perang di Timur Ukraina, Pemberontak pro-Rusia Serbu Pasukan Pemerintah

Internasional krisis ukraina
Arpan Rahman • 01 Februari 2017 20:09
medcom.id, Donbass: Pertempuran di Ukraina timur antara pemberontak pro-Rusia menghadapi angkatan bersenjata Ukraina meningkat gejolaknya.
Rentetan lebih tinggi jumlah pelanggaran gencatan senjata dilaporkan berkecamuk antara Minggu 29 Januari dan Senin malam, dibandingkan dengan 24 jam sebelumnya. Klaim itu muncul dari Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa dalam Misi Pemantauan Khusus ke Ukraina (OSCE SMM), Senin 30 Januari.
Kementerian Luar Negeri Ukraina mengatakan delapan tentara Ukraina tewas di wilayah Donbass dalam dua hari.
"Pasukan pendudukan Rusia melancarkan serangan besar-besaran di garis batas menggunakan semua senjata yang tersedia, termasuk (artileri, mortir dan tank) -- semua yang dilarang oleh perjanjian Minsk -- dan persenjataan ringan," kata kementerian itu. Setidaknya 26 tentara terluka.
Kemenlu Amerika Serikat (AS), pada Selasa 31 Januari, mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan: "Amerika Serikat sangat prihatin dengan lonjakan kerusuhan baru di timur Ukraina sekitar kota Avdiivka dan Yasynuvata."
Kemenlu Rusia juga menyatakan keprihatinan atas apa yang disebutnya situasi memburuk di Donbass.
Dikatakan, tentara Ukraina "terus melakukan operasi serangan demi merebut posisi yang dipegang oleh pasukan bela diri, termasuk di pinggiran kota Donetsk. Senjata berat, termasuk artileri berat dan sistem peluncuran roket, sedang aktif digunakan menghantam daerah pemukiman".
"Menurut Paket Kebijakan Minsk (langkah penerapan Perjanjian Minsk-Red) tanggal 12 Februari 2015, senjata tersebut harus sudah lama ditarik dari garis tempur," bubuhnya, seperti dikutip Stjoe Channel dari laporan CNN, Rabu (1/2/2017).
Pernyataan Rusia mengatakan, jatuh korban sipil, tanaman perairan dan pabrik kimia telah rusak, dan kehidupan para penambang berada dalam bahaya.
Kemenlu Rusia memperingatkan petaka kemanusiaan dan bencana lingkungan bisa terjadi. Kedua kota terpisah kurang-lebih 15 kilometer masing-masing memiliki sekitar 37.000 penduduk, menurut sensus Ukraina.
Britania Raya juga memperingatkan meningkatnya pertempuran. Menteri Luar Negeri Inggris Boris Johnson mendesak kedua pihak menahan diri, dan "menyatakan keprihatinan tentang situasi kemanusiaan yang memburuk."
Kepala pemantau OSCE Misi Pemantauan Khusus ke Ukraina, Ertugrul Apakan, Selasa, menyerukan penghentian segera pertempuran di wilayah bandara Avdiivka-Yasynuvata-Donetsk di Ukraina timur.
Dewan Keamanan PBB pun mengutuk penggunaan senjata yang dilarang perjanjian Minsk. DK PBB dan Kemenlu AS menyerukan kedua seteru untuk menghormati gencatan senjata.
Pasukan Rusia melakukan intervensi di Ukraina selama revolusi populer, dan tetap menduduki wilayah Krimea sejak itu. Putin secara resmi mengumumkan aneksasi Krimea pada 18 Maret 2014.

 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif