PM Israel Benjamin Netanyahu bersama Presiden AS Donald Trump. Foto: AFP
PM Israel Benjamin Netanyahu bersama Presiden AS Donald Trump. Foto: AFP

Kesepakatan UEA-Israel, Kemenangan Besar Trump dan Netanyahu

Internasional uni emirat arab israel donald trump UEA-Israel
Fajar Nugraha • 14 Agustus 2020 16:26
Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru saja menjadi perantara kesepakatan Timur Tengah antara Israel dan Uni Emirat Arab (UEA). Kesepakatan itu dianggap yang paling penting selama bertahun-tahun.
 
Pengumuman pada Kamis 13 Agustus itu disampaikan oleh Trump, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed bin Zayed. Dijuluki Kesepakatan Abraham, perjanjian itu menempatkan kedua negara di jalan menuju normalisasi penuh hubungan,yang pertama untuk negara Yahudi dan negara Teluk Arab.
 
Mereka akan menandatangani perjanjian tentang berbagai masalah, termasuk investasi, pariwisata, teknologi, dan budaya. Dan Israel harus membatalkan rencana untuk mencaplok wilayah tertentu di Tepi Barat.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Israel akan menangguhkan deklarasi kedaulatan atas wilayah dalam rencana perdamaian Trump. Mereka akan fokus pada peningkatan hubungannya dengan seluruh dunia Arab," bunyi perjanjian itu, seperti dikutip The New York Post, Jumat 14 Agustus 2020.
 
Trump mengumumkan kesepakatan normalisasi hubungan antara Israel, Uni Emirat Arab. Konsesi utama itu tidak akan pernah mungkin terjadi kecuali Trump dan Bibi (panggilan Netanyahu) bergerak ke arah aneksasi sejak awal. Artinya, mereka menciptakan tawar-menawar yang kemudian mereka serahkan demi perdamaian, terlepas dari kenyataan bahwa banyak orang Israel melihat mencaplok tanah sebagai jalan yang paling bijaksana.
 
Bahkan saingan Trump pada pemilihan tahun ini, menyebut kesepakatan itu sebagai ‘langkah bersejarah’. Meskipun pernyataan Joe Biden tidak menyebutkan nama Trump yang mewujudkannya.
 
The New York Post dalam editorialnya 14 Agustus 2020 menyebutkam, “Biden mencoba mengambil kredit sendiri, dengan mengatakan kesepakatan itu dibangun di atas upaya berbagai pemerintahan. Termasuk tim Obama-Biden".
 
“Sebenarnya dia benar dalam beberapa hal: Kesepakatan nuklir Iran yang keliru dari pemerintahannya yang memberi peluang Iran mengeluarkan uang untuk dana yang diduga digunakan kegiatan terorisme. Meningkatnya ancaman dari Iran membuat Israel dan sebagian besar negara Arab semakin dekat karena takut akan musuh bersama mereka, meskipun bukan itu yang dimaksudkan oleh tim Obama,” tulis the New York Post.
 
“Perjanjian Kamis juga mengejek klaim oleh Partai Demokrat dan pembentukan kebijakan luar negeri yang memperkirakan konsekuensi mengerikan ketika Trump mengumumkan dia akan memindahkan kedutaan AS ke Yerusalem. Alih-alih, yang terjadi adalah bahwa sekarang negara Arab ketiga telah setuju untuk berdamai dengan negara Yahudi, mendorongnya semakin dekat ke impiannya untuk diterima secara universal,” imbuh tulisan itu.
 
Melalui kesepakatan ini, popularitas menjelang Pilpres AS 2020 pada November mendatang sedikit meningkat. Meskipun yang menjadi perhatian dari masyarakat adalah isu dalam negeri, namun upaya Trump untuk membuka hubungan Israel dengan negara Arab bisa dianggap sebagai keberhasilan.
 
Di antara negara-negara Arab, hanya Mesir dan Yordania yang memiliki hubungan diplomatik aktif dengan Israel. Mesir membuat kesepakatan damai dengan Israel pada 1979, diikuti oleh Yordania pada 1994. Mauritania mengakui Israel pada 1999, tetapi kemudian mengakhiri hubungan pada 2009 karena perang Israel di Gaza pada saat itu.

 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif