Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto: AFP
Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto: AFP

WHO Prediksi Covid-19 Akan Berakhir pada 2022

Internasional WHO covid-19 pandemi covid-19 Varian Omicron
Medcom • 30 Desember 2021 13:53
Jenewa: Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus optimistis pandemi covid-19 akan berakhir pada 2022.
 
Dilansir dari The News, Kamis, 30 Desember 2021, Ghebreyesus mengatakan, dalam konferensi pers pada Rabu bahwa dua tahun lalu adalah saat orang-orang berkumpul untuk perayaan Malam Tahun Baru, ancaman global baru muncul.
 
Sejak itu, 1,8 juta kematian tercatat pada 2020 dan 3,5 juta pada 2021, namun jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi. Terdapat juga jutaan orang yang menghadapi konsekuensi jangka panjang dari virus.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Dirjen WHO Prihatin dengan ‘Tsunami’ Kasus Varian Delta dan Omicron.
 
Saat ini, varian Delta dan Omicron meningkatkan jumlah kasus hingga mencapai rekor, yang menyebabkan lonjakan rawat inap dan kematian.
 
Petinggi WHO berusia 56 tahun tersebut mengatakan, ia “sangat prihatin” bahwa Omicron yang lebih menular, dan beredar pada saat yang sama dengan Delta, menyebabkan ‘tsunami’ kasus.
 
Sebelumnya, pada 2020 WHO diketahui menantang para pemimpin untuk memvaksinasi 40 persen populasi mereka pada akhir 2021 dan 70 persen pada pertengahan 2022. Penentangan tersebut dilontarkan selama pertemuan ekonomi terbesar dunia, Kelompok Tujuh (G7) dan Kelompok Duapuluh (G20).
 
Dengan hanya beberapa hari tersisa di tahun ini, 92 dari 194 negara diketahui meleset dari target. Ghebreyesus menghubungkan ini dengan sejumlah negara berpenghasilan rendah yang menerima pasokan terbatas untuk sebagian besar tahun. Kemudian, vaksin berikutnya pun tiba hampir kedaluwarsa, tanpa bagian-bagian penting seperti jarum suntik.
 
“Empat puluh persen bisa dilakukan. Ini bukan hanya rasa malu secara moral, itu merenggut nyawa dan memberi virus peluang untuk beredar tanpa kendali dan bermutasi,” kata Ghebreyesus.
 
Ghebreyesus memperingatkan bahwa booster di negara-negara kaya dapat menyebabkan sejumlah negara berpenghasilan rendah kembali gagal. Ia meminta para pemimpin negara-negara kaya dan produsen untuk bekerja sama guna mencapai tujuan 70 persen pada Juli.
 
“Inilah saatnya untuk mengatasi nasionalisme jangka pendek dan melindungi populasi dan ekonomi dari varian masa depan dengan mengakhiri ketidakadilan vaksin global,” ujar Ghebreyesus.
 
“Kita punya 185 hari menuju garis finis untuk mencapai 70 persen pada awal Juli 2022. Dan jamnya dimulai sekarang,” tutur Ghebreyesus.
 
Sejak awal, Ghebreyesus mengakui bahwa mengalahkan ancaman kesehatan baru akan membutuhkan ilmu pengetahuan, solusi, dan solidaritas.
 
Saat menjelaskan beberapa keberhasilan, seperti pengembangan vaksin baru yang katanya “mewakili kelas master ilmiah”, pejabat WHO menyesalkan bahwa politik terlalu sering menang atas solidaritas.
 
“Populisme, nasionalisme yang sempit dan penimbunan alat kesehatan, termasuk masker, terapi, diagnostik dan vaksin, oleh sejumlah kecil negara merusak kesetaraan, serta menciptakan kondisi ideal untuk munculnya varian baru,” jelas Ghebreyesus.
 
Selain itu, informasi yang salah dan disinformasi diketahui juga telah menjadi “pengalih perhatian yang konstan, merusak sains dan kepercayaan pada alat kesehatan yang menyelamatkan jiwa”.
 
Ghebreyesus menyoroti sebagai contoh kasus bahwa gelombang besar infeksi telah melanda Eropa, dan banyak negara lain yang menyebabkan orang yang tidak divaksinasi meninggal secara tidak proporsional. 
 
Mereka yang tidak divaksinasi berkali-kali disebut lebih berisiko meninggal karena salah satu varian. Saat pandemi berlanjut, varian baru dapat menjadi sepenuhnya resisten terhadap vaksin saat ini atau infeksi masa lalu, yang memerlukan adaptasi vaksin.
 
Bagi Ghebreyesus, karena setiap pembaruan vaksin baru dapat berarti kekurangan pasokan baru, maka penting untuk membangun pasokan manufaktur lokal.
 
Menurutnya, salah satu cara untuk meningkatkan produksi alat penyelamat jiwa adalah dengan menggabungkan teknologi. Layaknya dalam sistem WHO BioHub yang baru, sebuah mekanisme untuk secara sukarela berbagi bahan biologis baru.
 
Ia juga menunjuk ke WHO Hub for Pandemic and Epidemic Intelligence yang baru, berbasis di Berlin, Jerman.
 
Ghebreyesus pun menyerukan pengembangan kesepakatan baru antar negara, dengan mengatakan itu akan menjadi “pilar utama” dunia yang lebih siap menghadapi penyakit berikutnya.
 
“Saya berharap untuk melihat negosiasi bergerak cepat dan para pemimpin bertindak dengan ambisi,” pungkas Ghebreyesus. (Nadia Ayu Soraya)
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif