Juru bicara Gedung Putih Kayleigh McEnany dalam sebuah konferensi pers. (Foto: Jim Watson/AFP/Getty)
Juru bicara Gedung Putih Kayleigh McEnany dalam sebuah konferensi pers. (Foto: Jim Watson/AFP/Getty)

Gedung Putih Tegaskan Informasi Rusia-Taliban Tidak Kredibel

Internasional amerika serikat taliban afghanistan
Willy Haryono • 01 Juli 2020 08:32
Washington: Gedung Putih terus membela Presiden Amerika Serikat Donald Trump seputar tudingan dirinya mengabaikan data intelijen terkait Rusia yang secara diam-diam membayar uang imbalan kepada militan terkait Taliban untuk membunuh pasukan AS di Afghanistan. Kabar seputar Rusia-Taliban ini pertama kali muncul di media New York Times pekan kemarin.
 
Berbicara dalam konferensi pers harian, juru bicara Gedung Putih Kayleigh McEnany berkukuh bahwa informasi yang muncul di New York Times itu tidak terverifikasi dan juga kredibel. Namun ia menegaskan Trump selama ini selalu menerima informasi intelijen, baik secara tertulis maupun lisan.
 
Menurut keterangan seorang sumber kepada CNN, informasi mengenai uang imbalan Rusia untuk Taliban ada dalam Laporan Harian Presiden (PDB) pada musim semi lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Presiden selalu membaca (laporan intelijen), dan dia juga sering menerimanya secara verbal," ujar McEnany saat ditanya awak media mengenai rumor bahwa Trump tidak selalu membaca PDB.
 
"Saya beri tahu Anda semua, presiden saat ini adalah orang yang paling banyak menerima informasi mengenai berbagai ancaman yang kita hadapi," sambungnya, dilansir dari laman CNN, Rabu 1 Juli 2020.
 
Selama ini, Trump dikenal sebagai presiden yang lebih memilih menerima informasi intelijen secara verbal, dua atau tiga kali dalam sepekan.
 
McEnany mengatakan saat ini Trump dan juga politisi Partai Demokrat serta Republik di Kongres AS sudah menerima informasi seputar isu Rusia-Taliban.
 
"Sekarang presiden sudah menerima informasi tersebut, tapi itu tetap tidak mengubah fakta bahwa tidak ada konsensus terkait data intelijen ini karena memang belum terverifikasi," ungkapnya.
 
Rusia dan Taliban sama-sama telah membantah keras artikel New York Times. Rusia geram karena laporan tersebut dapat membahayakan keselamatan seluruh diplomatnya, sedangkan Taliban menegaskan selama ini selalu berjuang dengan kekuatan sendiri tanpa bantuan pihak lain, termasuk Rusia.
 
Baca:Pentagon Tegaskan Tak Ada Bukti Rusia Pernah Bayar Taliban

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif