Protes berujung kerusuhan di Haiti menuntut diakhirnya penculikan yang terjadi. Foto: AFP
Protes berujung kerusuhan di Haiti menuntut diakhirnya penculikan yang terjadi. Foto: AFP

Tebusan Tak Dipenuhi, Geng Haiti Ancam Bunuh 17 Misionaris yang Diculik

Internasional Amerika Serikat Haiti Misionaris AS Diculik 400 Mawozo
Fajar Nugraha • 22 Oktober 2021 15:12
Port-au-Prince: Pemimpin geng Haiti yang menurut polisi menahan 17 anggota kelompok misionaris yang diculik, telah mengancam akan membunuh mereka jika tuntutannya tidak dipenuhi. Sebelumnya mereka menuntut tebusan USD1 juta atau sekitar Rp239 miliar per kepala.
 
Dalam sebuah video yang diposting di media sosial pada Kamis 21 Oktober 2021, Wilson Joseph, yang diduga pemimpin geng 400 Mawozo, mengatakan: “Saya bersumpah bahwa jika saya tidak mendapatkan apa yang saya minta, saya akan menembakkan peluru ke kepala orang Amerika ini.”
 
Joseph juga mengancam perdana menteri, Ariel Henry, dan kepala polisi nasional Haiti, Léon Charles, saat dia berbicara di depan peti mati yang tampaknya berisi beberapa anggota gengnya yang baru saja terbunuh.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Geng Haiti Minta Uang Tebusan Rp239 M untuk 17 Misionaris AS.
 
“Kalian membuatku menangis. aku menangis air. Tapi aku akan membuat kalian menangis darah," kata Joseph, seperti dikutip AFP, Jumat 22 Oktober 2021.
 
Awal pekan ini, pihak berwenang mengatakan bahwa tuntuan USD1 juta per orang tidak jelas apakah termasuk lima anak dalam kelompok itu. Di antara yang diculik terdapat seorang bayi berusia delapan bulan. Mereka yang diculik termasuk warga Amerika dan satu orang Kanada bersama dengan sopir Haiti.
 

Sebelumnya pada Kamis, Christian Aid Ministries yang berbasis di Ohio, mengatakan bahwa keluarga mereka yang diculik berasal dari Amish, Mennonite dan komunitas Anabaptis konservatif lainnya di Ohio, Michigan, Wisconsin, Tennessee, Pennsylvania, Oregon dan Ontario, Kanada.
 
Weston Showalter, juru bicara kelompok  itu, membaca surat dari keluarga para sandera, di mana mereka berkata, “Tuhan telah memberikan orang yang kita kasihi kesempatan unik untuk menjalankan perintah Tuhan kita untuk mengasihi musuhmu.”
 
Kelompok tersebut mengundang orang-orang untuk bergabung dengan mereka dalam doa bagi para penculik serta mereka yang diculik dan menyatakan terima kasih atas bantuan dari “orang-orang yang berpengetahuan dan berpengalaman dalam menghadapi” situasi seperti itu.
 
“Berdoalah untuk keluarga ini. Mereka berada di tempat yang sulit,” jelasnya.
 
Pada hari yang sama ketika para misionaris diculik, sebuah geng juga menculik seorang profesor universitas Haiti, menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Kantor Perlindungan Warga negara seperti ombudsman Haiti pada Selasa. Ia juga mencatat bahwa seorang pendeta Haiti yang diculik awal bulan ini belum dibebaskan meskipun uang tebusan telah dibayarkan.
 
"Para penjahat beroperasi dengan impunitas penuh, menyerang semua anggota masyarakat," kata organisasi itu.
 
Sementara itu, ratusan demonstran memblokir jalan dan membakar ban di ibukota Haiti untuk mengecam kekurangan bahan bakar yang parah dan lonjakan rasa tidak aman dan menuntut agar perdana menteri mundur.
 
Protes yang tersebar terjadi di lingkungan Delmas di Port-au-Prince. Selain penculikan, komplotan tersebut juga dituduh memblokir terminal distribusi gas dan membajak truk pemasok, yang menurut para pejabat telah menyebabkan kekurangan bahan bakar.
 
Banyak pompa bensin sekarang tetap tutup selama berhari-hari, dan kekurangan bahan bakar begitu mengerikan sehingga kepala eksekutif Digicel Haiti mengumumkan pada hari Selasa bahwa 150 dari 1.500 cabangnya di seluruh negeri kehabisan solar.
 
“Tidak ada yang berhasil!” keluh Davidson Meiuce, yang bergabung dengan protes Kamis.
 
“Kami sangat menderita,” imbuh Meiuce.
 
Beberapa pengunjuk rasa mengangkat tanda-tanda termasuk yang bertuliskan, “Turunkan biaya hidup yang tinggi.”
 
Demonstran bentrok dengan polisi di beberapa daerah, dengan petugas menembakkan gas air mata yang bercampur dengan asap hitam tebal yang membubung dari ban yang terbakar yang berfungsi sebagai barikade.
 
Alexandre Simon, seorang guru bahasa Inggris dan Prancis berusia 34 tahun, mengatakan dia dan yang lainnya memprotes karena warga Haiti menghadapi situasi yang mengerikan.
 
“Banyak orang yang tidak bisa makan. Tidak ada pekerjaan, ada banyak hal yang tidak kita miliki,” pungkasnya.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif