Polisi menggunakan gas air mata dalam membubarkan aksi unjuk rasa di Nantes, Prancis pada 16 Januari 2021. (AFP)
Polisi menggunakan gas air mata dalam membubarkan aksi unjuk rasa di Nantes, Prancis pada 16 Januari 2021. (AFP)

Ribuan Orang di Prancis Menentang RUU Keamanan Polisi

Internasional prancis politik prancis Emmanuel Macron
Willy Haryono • 17 Januari 2021 08:36
Paris: Ribuan orang di seantero Prancis beramai-ramai berunjuk rasa mengecam Rancangan Undang-Undang (RUU) keamanan terbaru yang melarang warga merekam sepak terjang polisi dan mengunggahnya ke media sosial. Warga Prancis menilai RUU ini membungkam kebebasan, sementara menurut pemerintah diperlukan demi melindungi polisi.
 
Sabtu kemarin, ribuan orang berdemo di Paris dan beberapa kota lainnya di Prancis. Banyak dari mereka kesal atas respons polisi saat membubarkan pesta Tahun Baru di wilayah Britanny yang dihadiri sekitar 2.400 orang.
 
Di Paris, demonstran turun berunjuk rasa ke jalanan meski adanya guyuran hujan salju. Mereka membawa beberapa spanduk bertuliskan, "polisi dimana-mana, keadilan tidak ada di mana pun," dan "status darurat, negara polisi."

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini merupakan bentuk kediktatoran yang aneh. Seberapan jauh pemerintah akan memberlakukan aturan ini," kata salah satu pedemo di kota Lille, yang hanya mengidentifikasi dirinya sebagai Francois.
 
"Jika ini terjadi di negara yang menjunjung tinggi kebebasan dan hak-hak warga, maka saya malu menjadi warga Prancis," sambungnya, dikutip dari laman TRT World pada Minggu, 17 Januari 2021.
 
Aparat keamanan menangkap total 75 orang dalam aksi protes menentang RUU Kemanan Polisi. "Dari 75 orang, 24 di antaranya ditangkap di Paris. Ada 12 polisi dan personel paramiliter yang terluka dalam unjuk rasa," kata Menteri Dalam Negeri Prancis Gerard Darmanin.
 
Ia menambahkan, polisi juga berusaha membubarkan sebuah acara musik ilegal yang berlangsung dekat lokasi unjuk rasa di Paris.
 
Rekaman video yang memperlihatkan polisi kulit putih memukuli pria kulit hitam di Paris pada 21 November 2020 telah meningkatkan kemarahan atas RUU Keamanan Polisi Prancis. Banyak warga Prancis menilai RUU ini sebagai sinyal bahwa Presiden Emmanuel Macron semakin bertindak represif.
 
Baca:  Survei: 60 Persen Warga Prancis Kecewa terhadap Macron
 
Dalam rekaman video lainnya, sekelompok polisi terlihat menggunakan aksi kekerasan dalam membongkar sebuah kamp imigran yang berada di jantung ibu kota Paris.
 
Demonstran juga menentang bertambahnya alat-alat pengintaian pemerintah seperti pesawat tanpa awak (drone) dan kamera CCTV. Di tengah tekanan warga, Partai LREM milik Macron mengumumkan rencana mengubah Artikel 24 dalam RUU Keamanan Polisi yang mengatur mengenai merekam sepak terjang aparat.
 
Namun para pengunjuk rasa sayap kiri dan grup hak asasi manusia mendorong pemerintahan Macron untuk sepenuhnya menarik RUU tersebut.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif