Salah satu sudut halaman di Gedung Putih. (AFP)
Salah satu sudut halaman di Gedung Putih. (AFP)

Pelacakan Kontak Klaster Covid-19 Gedung Putih Dipertanyakan

Internasional amerika serikat Virus Korona donald trump covid-19
Marcheilla Ariesta • 07 Oktober 2020 13:12
Washington: Program pelacakan kontak dari klaster virus korona (covid-19) di Gedung Putih dinilai terlalu serampangan. Sejumlah pakar kesehatan dan pejabat kota di Amerika Serikat mempertanyakan keseriusan Gedung Putih dalam menemukan siapa-siapa saja yang mungkin telah terpapar covid-19.
 
Sejak pekan kemarin, sejumlah staf dan ajudan Gedung Putih telah terinfeksi covid-19. Sebagian dari mereka diduga tertular saat menghadiri acara nominasi Amy Coney Barret sebagai calon hakim Mahkamah Agung AS.
 
Kantor Wali Kota Washington melaporkan adanya 105 kasus baru covid-19 sejak 5 Oktober. Mereka mengatakan angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak Juni lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pejabat terpilih yang mewakili Washington dan daerah sekitarnya mengaku khawatir lonjakan kasus covid-19 terkait klaster Gedung Putih dapat terus meningkat di luar kendali.
 
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan istrinya, Melania, dinyatakan positif covid-19 pada Jumat pekan lalu. Satu hari sebelumya, ajudan Trump bernama Hope Hicks sudah terinfeksi covid-19.
 
Dua ajudan lainnya, Nicholas Luna dan Stephen Miller, juga terinfeksi. Beberapa staf di Gedung Putih juga terjangkit covid-19, termasuk juru bicara Kayleigh McEnany.
 
Tidak hanya di Gedung Putih, kekhawatiran atas covid-19 juga merebak di Kementerian Pertahanan (Pentagon). Seorang laksamana AS telah terinfeksi covid-19, dan ia diketahui pernah menghadiri sebuah pertemuan di Pentagon.
 
"Kami khawatir dan cemas dengan ketidakpedulian terhadap kesehatan komunitas kami, termasuk konstituen yang bekerja di Gedung Putih sebagai staf, agen, atau petugas Secret Service Amerika Serikat, jurnalis Asosiasi Koresponden Gedung Putih, dan bahkan masyarakat umum," kata sekelompok anggota Kongres dari Partai Demokrat dalam pernyataannya, dilansir dari Channel News Asia, Rabu, 7 Oktober 2020.
 
Baca:Fauci Sebut Klaster Gedung Putih Seharusnya Dapat Dicegah
 
Acara nominasi Barret diduga menjadi pemicu klaster Gedung Putih. Banyak orang hadir dalam kegiatan tersebut, termasuk para jurnalis. Dalam acara, terlihat banyak orang yang tidak mengenakan masker dan mengabaikan aturan menjaga jarak sosial (social distancing).
 
Namun, beberapa anggota staf, tamu dan bahkan jurnalis di acara tersebut atau yang berada dalam penerbangan Air Force One dengan Trump, belum dihubungi tim medis Gedung Putih.
 
Padahal seharusnya, siapapun yang berada di Gedung Putih pada akhir pekan sebelum Trump ia terinfeksi, harus menjalani karantina mandiri selama 14 hari.
 
"Pelacakan kontak ini harus mengidentifikasi kelompok mana saja yang terinfeksi saat berada di Gedung Putih. Dan seharusnya pihak Gedung Putih juga memberitahu siapa saja yang berada di dekat orang-orang ini," kata Jeremy Konyndyk dari Center for Global Development.
 
"Pelacakan kontak yang benar menunjukkan 'kasus indeks,' yang bisa mengantisipasi orang-orang di sana dalam menyebarkan virus ke orang lain," imbuhnya.
 
Karena tidak jelasnya pelacakan kontak Gedung Putih, beberapa tamu, pengunjung dan reporter akhirnya mengambil tindakan sendiri. Seperti halnya Pendeta Paul Scalia dari Gereja Katolik St James yang turut hadir dalam acara 26 September lalu. Ia memutuskan melakukan tes dan juga karantina mandiri. Semuanya ia dilakukan setelah mendengar mengenai kondisi Trump.
 
"Kurangnya penggunaan masker dan jarak sosial pada acara itu menjadi perhatian yang utama, apalagi sejak Presiden didiagnosis covid-19 dan dirawat di rumah sakit," seru Scalia.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif