Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat berada di Ankara, 20 Januari 2022. (Adem ALTAN / AFP)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan saat berada di Ankara, 20 Januari 2022. (Adem ALTAN / AFP)

Jurnalis Turki Ditahan Usai 'Menghina' Erdogan dalam Sebuah Wawancara

Internasional politik turki turki Jurnalis Recep Tayyip Erdogan
Willy Haryono • 23 Januari 2022 18:07
Istanbul: Seorang jurnalis Turki ditahan dan dijebloskan ke penjara usai dianggap "menghina" Presiden Recep Tayyip Erdogan. Sedef Kabas ditahan di Istanbul pada Sabtu, setelah dirinya melakukan wawancara di saluran televisi Tele1 pekan kemarin.
 
Dalam wawancara, Kabas menggunakan peribahasa tradisional Turki untuk merujuk kepada Erdogan, namun tanpa menyebutkan nama sang presiden.
 
"Kepala yang menggunakan mahkota seharusnya menjadi lebih bijak, tapi kita semua melihat hal tersebut tidak benar," ujar Kabas, merujuk pada Erdogan yang sudah berkuasa di Turki sebagai perdana menteri dan presiden selama hampir 20 tahun.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saat seekor hewan ternak masuk ke istana, ia tidak akan menjadi raja, tapi istananya berubah menjadi kandang," lanjutnya, dikutip dari laman CNN, Minggu, 23 Januari 2022.
 
Menurut media TRT Haber, kepala kantor kejaksaan publik Istanbul memutuskan untuk menjebloskan Kabas ke penjara usai berlangsungnya sebuah investigasi terkait komentar sang jurnalis dalam wawancara di Tele1.
 
Kabas ditahan di sebuah hotel di Istanbul yang telah ditempatinya sejak Jumat kemarin. Pada Sabtu pagi, ia dibawa ke sebuah kantor polisi kemudian ke gedung kejaksaan.
 
Sejumlah kamera sudah menanti Kabas saat dirinya dibawa ke gedung pengadilan. Di sana, ia hadir di hadapan hakim dan dijebloskan ke penjara tak lama setelahnya.
 
Pengacara Kabas, Ugur Poyraz, mengecam penahanan kliennya. "Saya mendeklarasikan bahwa kami akan berjuang hingga akhir dalam melawan ketidakadilan ini," tulisnya di Twitter.
 
Menteri Hukum Turki Abdulhamit Gul merespons kata-kata yang diucapkan Kabas tanpa menyebutkan namanya via Twitter. "Saya mengecam kata-kata kasar yang menyerang presiden kami, yang dipilih oleh suara rakyat," ucapnya.
 
Direktur Komunikasi Presidensial Turki, Fahrettin Altun, turut mengecam tindakan Kabas. "Seorang individu yang menyebut dirinya jurnalis dengan gamblang menghina presiden kami di sebuah saluran televisi. Tujuan dia hanyalah menyebar kebencian," tutur Altun.
 
Sementara itu organisasi Reporters Without Borders (RSF) mengkritik sikap Turki yang cenderung represif terhadap jurnalis.
 
"Sekitar 200 jurnalis telah dituntut, dan 70 di antaranya divonis atas tuduhan serupa sejak Erdogan menjadi presiden di bulan Agustus 2014," sebut RSF.
 
Baca:  Jumlah Jurnalis yang Dipenjara Capai Angka Tertinggi Baru Sepanjang 2021
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif