Kondisi jalanan di kota Denver relatif sepi di tengah mewabahnya covid-19, Minggu 29 Maret 2020. (Foto: Kartika Tasno)
Kondisi jalanan di kota Denver relatif sepi di tengah mewabahnya covid-19, Minggu 29 Maret 2020. (Foto: Kartika Tasno)

Pandemi Covid-19 Hampir Lumpuhkan Kehidupan Warga AS

Internasional Virus Korona Coronavirus virus corona covid-19 Berita Virus Corona Hari Ini
Medcom • 30 Maret 2020 08:17
Denver: Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah kasus virus korona (covid-19) tertinggi di dunia, dengan lebih dari 142 ribu infeksi aktif per hari ini, Senin 30 Maret 2020. Dari total kasus tersebut, 2.479 dinyatakan meninggal, dan 2.686 berhasil sembuh.
 
Karena pandemi covid-19 memukul perekonomian AS, sekitar 3,3 juta warga di negara tersebut telah mengajukan tunjangan pengangguran. Angka ini memecahkan rekor angka pengangguran AS pada 2 Oktober 1982. Kala itu, 695 ribu orang mengajukan atau mengklaim tunjangan pengangguran.
 
Pemerintah lokal Denver, ibu kota negara bagian Colorado, telah menerapkan perintah untuk tinggal di rumah (stay at home). Lewat aturan ini, semua penduduk Denver dan sekitarnya diimbau tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan penting, seperti belanja kebutuhan sehari-hari di supermarket, pergi ke dokter, dan sebagainya. Aturan diberlakukan demi meredam penyebaran virus korona.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perintah yang dikeluarkan Wali Kota Denver, Michael Hancock, berlaku sejak Selasa, 24 Maret untuk setidaknya 10 April mendatang. Ada kemungkinan aturan tersebut diperpanjang.
 
Aturan mencakup penutupan toko atau bisnis non-esensial atau tidak penting, taman umum, serta ruang publik lainnya. Selain itu, Hancock juga memberlakukan social distancing, yaitu mewajibkan masyarakat untuk menjaga jarak antar satu sama lain, setidaknya 1,5 hingga 2 meter.
 
Pelanggar aturan stay at home di Denver dapat dikenai denda hingga USD999 atau sekitar Rp17 juta.
 
Namun, perintah ini tidak berlaku untuk beberapa kategori bisnis/industri yang dinilai esensial seperti rumah sakit, telekomunikasi, supermarket, perusahaan farmasi dan lain lain. Para karyawan dan juga industri yang mendapat pengecualian itu bisa terus melayani masyarakat setempat.
 
Salah seorang penduduk Denver, Elizabeth P (28), mengaku bekerja di perusahaan yang masuk kategori esensial, yaitu konstruksi. Ia diperbolehkan untuk tetap bekerja lewat skema dari luar rumah atau work from home (WFH).
 
Sementara untuk yang harus bekerja di kantor, Elizabeth mengatakan perusahaannya mewajibkan seluruh karyawan untuk memisahkan diri dengan memindahkan ruang kerja, sehingga dalam satu ruangan, hanya ada satu karyawan yang bekerja. Bagi yang bisa bekerja dari rumah, semuanya diminta untuk menjalankan WFH.
 
Sejak wabah covid-19 melanda AS, membeli barang secara berlebihan atau panic buying telah melanda banyak supermarket di seantero negeri. Jenis barang yang diincar beragam, mulai dari produk pembersih rumah yang mengandung bahan anti-bakteri hingga senjata api beserta amunisi dan aksesorinya.
 
Pandemi Covid-19 Hampir Lumpuhkan Kehidupan Warga AS
Deretan rak kosong di sebuah supermarket di Denver. (Foto: Kartika Tasno)
 
Pandemi Covid-19 Hampir Lumpuhkan Kehidupan Warga AS
Deretan rak kosong di sebuah supermarket di Denver. (Foto: Kartika Tasno)
 
Situasi di Cabela’s yang berlokasi di Lone Tree, Colorado, pada Minggu 29 Maret siang waktu setempat tampak sepi, meski ada sekitar 12 pelanggan yang diminta untuk mengantre di luar gedung. Toko spesialis untuk kegiatan berburu, berkemah, mendaki gunung, dan memancing ini juga menjual beragam senjata api.
 
Belakangan ini Cabela's menerapkan aturan yang hanya menerima 50 pengunjung di dalam tokonya di saat bersamaan. Jika ada pengunjung yang selesai berbelanja, maka pihak toko akan membolehkan orang yang mengantre di luar untuk masuk satu per satu.
 
Pandemi Covid-19 Hampir Lumpuhkan Kehidupan Warga AS
Pelanggan mengantre di luar toko Cabela's di Denver. (Foto: Kartika Tasno)
 
Salah satu pengunjung, Timothy Franklin (46), mengaku membeli amunisi untuk berjaga-jaga jika kerusuhan terjadi akibat kondisi negara yang tidak menentu di tengah pandemi covid-19. Jenis amunisi yang dicarinya adalah peluru untuk senjata kaliber 0.40 dan 5.56 NATO.
 
Jenis peluru ini rupaya paling populer dan diincar pembeli. Namun, dirinya sangat kecewa mendapati rak-rak yang kosong. Hanya jenis peluru berkaliber kecil seperti 22, yang masih tersedia.
 
Salah satu pegawai toko, Brayden, mengatakan bahwa amunisi senjata kaliber besar memang sejak bulan lalu menjadi komoditi langka. Ia mengatakan tokonya akan memasok ulang amunisi pada Selasa pekan depan. Namun biasanya, stok amunisi senjata kaliber besar ludes hanya dalam dua jam.
 
Penulis adalah Kartika Tasno warga Indonesia yang bermukim di Amerika Serikat.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif