Ilustrasi penggunaan jejaring sosial Facebook. (AFP/Roberto Duarte)
Ilustrasi penggunaan jejaring sosial Facebook. (AFP/Roberto Duarte)

Pengungsi Rohingya Gugat Facebook Rp2,1 Kuadriliun atas Ujaran Kebencian

Internasional facebook Myanmar rohingya ujaran kebencian
Willy Haryono • 07 Desember 2021 19:19
California: Sekelompok pengungsi Rohingya menggugat Facebook senilai USD150 miliar atau setara Rp2,1 kuadriliun atas tuduhan bahwa jejaring sosial tersebut gagal membendung ujaran kebencian di situsnya. Kegagalan itu dinilai semakin memperparah aksi kekerasan terhadap kelompok minoritas di seluruh dunia, termasuk Rohingya.
 
Gugatan ini, dilayangkan ke sebuah pengadilan di California, mengatakan bahwa algoritma Facebook cenderung mempromosikan disinformasi dan pemikiran ekstremis yang berujung pada aksi kekerasan di dunia nyata.
 
"Facebook sudah seperti robot yang diprogram dengan sebuah misi: untuk berkembang," tulis dokumen gugatan yang dilayangkan kelompok pengungsi Rohingya ke pengadilan California.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Realitas tak terbantahkan bahwa pertumbuhan Facebook, yang dimotori kebencian, perpecahan, dan misinformasi, telah menghancurkan kehidupan ratusan ribu Rohingya," lanjut dokumen tersebut, dikutip dari AFP, Selasa, 7 Desember 2021.
 
Baca:  Facebook Resmi Ganti Nama Jadi Meta
 
Rohingya menghadapi diskriminasi berskala luas di Myanmar. Meski sudah tinggal di Myanmar selama berdekade-dekade, Rohingya dianggap bukan penduduk asli negara tersebut.
 
Kampanye militer Myanmar terhadap Rohingya, yang disebut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dapat dikategorikan sebagai genosida, telah membuat ratusan ribu etnis minoritas tersebut melarikan diri ke Bangladesh pada 2017. Hingga kini, banyak dari mereka yang tinggal di kamp-kamp pengungsian Bangladesh.
 
Meski eksodus terjadi pada 2017, masih banyak Rohingya yang memilih tinggal di Myanmar. Di negaranya sendiri, mereka tidak diperbolehkan mendapat status kewarganegaraan dan sering menjadi target kekerasan komunal, termasuk diskriminasi oleh junta militer.
 
Dalam dokumen gugatan, para pengungsi Rohingya berpendapat bahwa algoritma Facebook mendorong sebagian pengguna untuk bergabung dengan sejumlah grup ekstremis. Situasi semacam itu, lanjut dokumen tersebut, rentan "dieksploitasi oleh jajaran politisi dan rezim tertentu."
 
Sejumlah grup hak asasi manusia sejak lama mengecam Facebook karena dinilai kurang berbuat banyak dalam mencegah penyebaran disinformasi dan misinformasi di dunia maya. Sejumlah kritikus mengatakan, Facebook cenderung tidak bertindak tegas meski sudah disodori bukti-bukti kuat mengenai ujaran kebencian.
 
Para pengungsi Rohingya juga menuding Facebook sebagai raksasa media sosial yang cenderung membiarkan informasi palsu berkembang biak. Padahal, informasi palsu dapat berimbas besar pada nasib jutaan orang di luar sana, terutama yang berasal dari etnis-etnis minoritas.
 
Hingga saat ini, Facebook belum secara resmi merespons gugatan pengungsi Rohingya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, Facebook mendapat tekanan di Amerika Serikat dan Eropa untuk lebih berbuat banyak dalam memberantas informasi palsu, terutama seputar pemilihan umum dan pandemi Covid-19.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif