Menlu Turki Mevlut Cavusoglu (kiri) dan Menlu Rusia Sergei Lavrov (kanan)./AFP
Menlu Turki Mevlut Cavusoglu (kiri) dan Menlu Rusia Sergei Lavrov (kanan)./AFP

Menlu Turki: Rusia-Ukraina Selangkah Lagi Menuju Gencatan Senjata

Marcheilla Ariesta • 20 Maret 2022 21:50
Istanbul: Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu mengatakan, Rusia dan Ukraina hampir mencapai kesepakatan mengenai isu-isu kritis. Ia berharap, gencatan senjata dapat dilakukan jika kedua belah pihak tidak mundur dari kemajuan dialog yang dicapai sejauh ini.
 
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Dmytro Kuleba dari Ukraina bertemu di kota resor Turki Antalya awal bulan ini, dengan ditengahi Menlu Turki. Namun, dialog tersebut tidak membuahkan hasil konkret.
 
Tetapi Cavusoglu, yang juga melakukan perjalanan ke Rusia dan Ukraina pekan lalu untuk melakukan pembicaraan dengan Lavrov dan Kuleba mengatakan, telah terjadi "penyesuaian posisi kedua belah pihak pada pokok-pokok penting, pokok-pokok kritis".

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kami dapat mengatakan kami berharap untuk gencatan senjata jika pihak tidak mengambil langkah mundur dari posisi saat ini," katanya, dilansir dari Anadolu, Minggu, 20 Maret 2022.
 
Juru bicara kepresidenan Turki Ibrahim Kalin mengatakan kedua pihak semakin dekat dalam empat masalah utama.
 
Baca juga: Rusia Tembakan Rudal dari Krimea dalam Serangan Terbaru ke Ukraina
 
Ia mengutip permintaan Rusia agar Ukraina melepaskan ambisi untuk bergabung dengan NATO, demiliterisasi, apa yang disebut Rusia sebagai "de-nazifikasi", dan perlindungan bahasa Rusia di Ukraina.
 
Ukraina dan Barat telah menolak referensi Rusia untuk "neo-Nazi" dalam kepemimpinan terpilih secara demokratis Ukraina sebagai propaganda tak berdasar.
 
Kiev dan Moskow melaporkan beberapa kemajuan dalam pembicaraan pekan lalu menuju formula politik yang akan menjamin keamanan Ukraina, sementara menjaganya di luar NATO. Meskipun, masing-masing pihak saling menuduh satu sama lain terkait masalah ini.
 
Kalin mengatakan, gencatan senjata permanen hanya bisa terjadi melalui pertemuan antara Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
 
Sebagai anggota NATO Turki berbagi perbatasan maritim dengan Ukraina dan Rusia di Laut Hitam. Ankara memiliki hubungan baik dengan keduanya dan menawarkan untuk menengahi di antara mereka.
 
Ia telah menyuarakan dukungan untuk Ukraina tetapi juga menentang sanksi Barat yang berdampak luas yang dikenakan pada Moskow atas invasi tersebut.
 
Sementara menjalin hubungan dekat dengan Rusia pada energi, pertahanan dan perdagangan dan sangat bergantung pada turis Rusia, Turki telah menjual drone ke Ukraina, membuat marah Moskow.
 
Turki juga menentang kebijakan Rusia di Suriah dan Libya, serta pencaplokan Krimea oleh Moskow.
 
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah berulang kali mengatakan, Turki tidak akan meninggalkan hubungannya dengan Rusia atau Ukraina. Menurutnya, kemampuan Ankara untuk berbicara dengan kedua belah pihak adalah aset.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif