PM Norwegia Erna Solberg. (Foto: AFP)
PM Norwegia Erna Solberg. (Foto: AFP)

PM Norwegia: Demo Anti-Islam Bentuk Kebebasan Berpendapat

Internasional alquran norwegia
Willy Haryono • 01 September 2020 11:04
Oslo: Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg menegaskan bahwa aksi unjuk rasa anti-Islam di kota Oslo pada akhir pekan kemarin merupakan bagian dari kebebasan berpendapat di negaranya. Dalam demonstrasi tersebut, seorang aktivis anti-Islam terlihat merobek beberapa halaman kita suci Alquran.
 
Aksi unjuk rasa digelar oleh grup bernama Stop Islamization of Norway (SIAN) di dekat gedung parlemen di kota Oslo. Keseluruhan acara berakhir usai para aktivis SIAN terlibat bentrok dengan demonstran yang marah atas perobekan Alquran.
 
Berbicara kepada kantor berita NTB, Senin 31 Agustus 2020, Solberg menegaskan bahwa Norwegia mengizinkan individu atau kelompok apapun untuk menyuarakan pandangannya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saya khawatir mengenai isu kebebasan berpendapat, yang selama ini kita bela bersama di Norwegia. Saya khawatir negara-negara lain menganggap kita tidak peduli dengan pandangan SIAN, padahal tidak demikian," ujar Solberg.
 
Meski mengizinkan SIAN bersuara, Solberg menegaskan dirinya sama sekali tidak mendukung pandangan grup tersebut. "Sakit rasanya saat mendengar mereka berbicara mengenai kehidupan di negara ini, mengenai agama-agama orang di negara ini," sebut Solberg.
 
Pernyataan Solberg disampaikan di hari yang sama Turki mengecam aksi demo SIAN. Kementerian Luar Negeri Turki menilai, rasisme dan kebencian terhadap Islam tidak dapat dikategorikan sebagai kebebasan berbicara.
 
Polisi dalam jumlah besar bersiaga di sekitar lokasi demo pada akhir pekan kemarin. Aksi protes meningkat menjadi bentrokan usai seorang perempuan merobek beberapa halaman Alquran. Tidak hanya merobek, perempuan itu juga terlihat meludahi Alquran.
 
Sekelompok pengunjuk rasa yang marah melihat perobekan Alquran langsung melewati perimeter polisi dan mencoba menyerang kelompok anti-Islam. Polisi bergegas mengintervensi bentrokan, yang berujung pada terlukanya satu orang dan penangkapan terhadap beberapa lainnya.
 
Sebelum terjadi bentrokan, unjuk rasa SIAN berlangsung relatif damai selama dua jam. Para pendukung anti-Islam menyuarakan yel-yel, bernyanyi, dan mendengarkan orasi pemimpin SIAN, Lars Thorsen. Dalam orasinya, Thorsen menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai "nabi palsu."

 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif