Pengunjuk rasa melemparkan bom molotov ke arah polisi di Athena, Yunani. Foto: AFP
Pengunjuk rasa melemparkan bom molotov ke arah polisi di Athena, Yunani. Foto: AFP

Kematian George Floyd

Molotov dan Gas Air Mata Warnai Demo Antirasis di Yunani

Internasional Kematian George Floyd
Fajar Nugraha • 04 Juni 2020 16:36
Athena: Protes mendukung keadilan bagi warga kulit hitam Amerika Serikat (AS) berakhir bentrok di Yunani. Pedemo melempar bom molotov ke arah polisi yang ditanggapi dengan tembakan gas air mata pada Rabu 3 Juni.
 
Polisi yang membunuh George Floyd, seorang pria Afrika-Amerika yang tidak bersenjata, tidak hanya memicu protes sekali dalam satu generasi di AS, tetapi juga demonstrasi solidaritas di seluruh dunia, termasuk Inggris, Prancis hingga Kanada dan Brasil.
 
Di Athena, 3.000 orang mengutuk rasisme yang terjadi di Amerika. Selain itu mereka juga mengecam Negeri Paman Sam yang mereka anggap sebagai pembunuh dan imperialis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Protes ini dipusatkan di dekat Kedutaan Besar AS di Athena. Sekelompok pedemo melemparkan bom molotov ke polisi anti-huru hara,” kata seorang fotografer AFP.
 
Polisi kemudian menggunakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan. Beberapa kelompok pengunjuk rasa juga membakar tempat sampah.
 
Dalam protes lain pada Rabu, sekitar 3.000 orang turun ke jalan di ibu kota Finlandia, Helsinki, meneriakkan "Black Lives Matter" dan memegang tanda bertuliskan "Aku tidak bisa bernapas".
 
"Bahkan di sini di Finlandia, ada rasisme di mana-mana, di bar, klub malam, pusat perbelanjaan, di mana-mana," kata pengunjuk rasa Omar, yang berasal dari Gambia dan telah tinggal di Finlandia selama 16 tahun, kepada AFP, yang dikutip Channel News Asia, Kamis, 4 Juni 2020.
 
Beberapa ribu pengunjuk rasa juga berkumpul di Stockholm, banyak yang memakai masker wajah, namun polisi secara bertahap membubarkan unjuk rasa itu karena aturan jaga jarak sosial dan larangan berkumpul lebih dari 50 orang di Swedia di tengah pandemi virus korona.
 
Gelombang protes melanda seantero AS usai George Floyd, seorang pria kulit hitam, meninggal usai lehernya ditindih seorang polisi bernama Derek Chauvin pada Senin 25 Mei.
 
Chauvin dan tiga rekannya telah dipecat dari jajaran Kepolisian Minneapolis satu hari usai kejadian. Keempat anggota polisi yang terlibat kini semuanya didakwa pembunuhan.
 
Hasil autopsi resmi menunjukkan bahwa Floyd meninggal akibat dibunuh, terlepas dari sejumlah kondisi medis yang dideritanya. Terungkap pula bahwa Floyd terinfeksi virus korona.

 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif