Duta Besar Myanmar untuk PBB Kyaw Moe Tun. Foto: UNTV
Duta Besar Myanmar untuk PBB Kyaw Moe Tun. Foto: UNTV

Dubes Myanmar Peringatkan PBB Tentang Dugaan Pembantaian Oleh Militer

Internasional pbb konflik myanmar Myanmar aung san suu kyi Kudeta Myanmar Protes Myanmar
Fajar Nugraha • 05 Agustus 2021 10:07
New York: Duta Besar Myanmar untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Kyaw Moe Tun  memperingatkan badan dunia itu tentang "pembantaian yang dilaporkan" oleh junta militer.
 
Kyaw Moe Tun mengirim surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Selasa 3 Agustus mengatakan, 40 mayat telah ditemukan di kota Kani pada Juli di daerah Sagaing di barat laut Myanmar.
 
Junta telah membantah pembantaian itu, sementara AFP belum dapat memverifikasi laporan secara independen karena jaringan seluler terputus di wilayah terpencil.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Perwakilan tersebut menulis bahwa tentara menyiksa dan membunuh 16 pria di sebuah desa di kota sekitar tanggal 9 dan 10 Juli, setelah itu 10.000 penduduk meninggalkan daerah tersebut.
 
Diplomat yang menolak meninggalkan jabatannya meskipun dipecat setelah kudeta Februari mengatakan, 13 mayat lagi ditemukan pada hari-hari setelah bentrokan antara pejuang lokal dan pasukan keamanan pada 26 Juli.
 
“Ada 11 pria lainnya, termasuk seorang anak laki-laki berusia 14 tahun, tewas dan dibakar di sebuah desa terpisah pada 28 Juli,” ujar Dubes Kyaw, seperti dikutip AFP, Kamis 5 Agustus 2021.
 
Dia kembali mengulangi seruannya untuk embargo senjata global pada junta yang berkuasa dan intervensi kemanusiaan mendesak dari komunitas internasional.
 
"Kami tidak bisa membiarkan militer terus melakukan kekejaman seperti ini di Myanmar," kata Kyaw Moe Tun kepada AFP.
 
"Sudah saatnya PBB, khususnya Dewan Keamanan PBB, untuk mengambil tindakan,” tegasnya.
 
Myanmar berada dalam kekacauan sejak tentara menggulingkan kepemimpinan sipil pada 1 Februari. Junta melancarkan tindakan keras terhadap perbedaan pendapat yang telah menewaskan lebih dari 900 orang.
 
Kyaw Moe Tun dengan penuh semangat menolak kudeta dan menepis klaim junta bahwa dia tidak lagi mewakili Myanmar. Namun PBB masih menganggapnya sebagai utusan yang sah.
 
Perwakilan itu dipecat oleh junta pada Februari, sehari setelah dia memberi hormat tiga jari di Majelis Umum PBB menyusul pidato berapi-api yang menyerukan kembalinya pemerintahan sipil. Gerakan "Hunger Games" itu digunakan secara luas oleh para demonstran pro-demokrasi.
 
Kyaw yang telah berulang kali menyerukan intervensi internasional untuk membantu mengakhiri kerusuhan di Myanmar, mengatakan pada Rabu bahwa pihak berwenang AS telah meningkatkan keamanannya setelah ancaman nyata dibuat terhadapnya.
 
"Ada laporan ancaman terhadap saya. Polisi dan otoritas keamanan di sini di New York sedang mengerjakannya," tambahnya  kepada AFP,  tanpa memberikan rincian tentang sifat ancaman.
 
Perkembangan terbaru di Myanmar menunjukkan bahwa, pimpinan junta menegaskan pemilihan akan diadakan dan keadaan darurat dicabut pada Agustus 2023. Ini memperpanjang batas waktu satu tahun awal militer yang diumumkan beberapa hari setelah kudeta.
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif