Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto: AFP
Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus. Foto: AFP

Dirjen WHO: Kita Harus Akhiri Covid-19 Pada 2022

Internasional WHO covid-19 pandemi covid-19
Medcom • 23 Desember 2021 12:25
Jenewa: Keganasan varian Omicron kembali membawa ketakutan warga di seluruh dunia menjelang musim liburan. Sejak terdeteksi pertama kali di Afrika Selatan pada 24 November lalu, Omicron telah menyebar ke lebih dari 100 negara.
 
Dilansir dari Hindustan Times, Kamis, 23 Desember 2021, tahun ini adalah tahun kedua berturut-turut liburan Natal yang akan diadakan di bawah bayang-bayang wabah penyakit menular covid-19.
 
Namun, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pemerintah di seluruh dunia harus bekerja untuk mengakhiri pandemi. “2022 harus menjadi tahun kita mengakhiri pandemi,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers pada Selasa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Jika kita ingin mengakhiri pandemi di tahun mendatang, kita harus mengakhiri ketidakadilan, dengan memastikan 70 persen populasi setiap negara divaksinasi pada pertengahan tahun depan,” jelas Ghebreyesus.
 
“Pekan lalu, WHO mengeluarkan Daftar Penggunaan Darurat (EUL) untuk vaksin kesembilan, yang diproduksi oleh Serum Institute of India (SII) di bawah lisensi dari Novavax. Vaksin baru ini adalah bagian dari portofolio COVAX, dan kami berharap ini akan memainkan peran penting dalam pencapaian global kami. target vaksinasi,” terang Ghebreyesus.  
 
Bagaimanapun, petinggi WHO berusia 56 tahun tersebut melukiskan gambaran suram yang mengatakan bahwa selubung kesuraman telah turun ke dunia karena virus corona.
 
Ia menjelaskan, terdapat lebih dari 3,3 juta orang telah kehilangan nyawa karena pandemi tahun ini. Angkanya lebih banyak daripada kematian gabungan human immunodeficiency virus (HIV), malaria, dan tuberkulosis pada 2020. Bahkan, kian merenggut sekitar 50 ribu nyawa setiap minggunya.
 
“Belum lagi kematian yang tidak dilaporkan, dan jutaan kematian berlebih yang disebabkan oleh gangguan pada layanan kesehatan esensial,” ucap Ghebreyesus.
 
“Sekarang ada bukti yang konsisten bahwa Omicron menyebar secara signifikan lebih cepat daripada varian Delta. Dan kemungkinan besar orang yang telah divaksinasi atau telah pulih dari covid-19 dapat terinfeksi atau terinfeksi ulang,” tambahnya.
 
Ia pun mengungkapkan, dari pelaporan jumlah kasus terendah dalam 18 bulan, Afrika mencatat jumlah kasus terbesar keempat dalam satu minggu. (Nadia Ayu Soraya)
 
(FJR)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif