Perusahaan farmasi Prancis, Sanofi mengembangkan vaksin virus korona. Foto: AFP
Perusahaan farmasi Prancis, Sanofi mengembangkan vaksin virus korona. Foto: AFP

Vaksin Covid-19 Untuk Seluruh Dunia Bukan Hanya AS

Internasional Virus Korona Coronavirus virus corona
Fajar Nugraha • 15 Mei 2020 13:38
Paris: Presiden Prancis Emmanuel Macron akan melakukan pertemuan dengan para petinggi raksasa farmasi Sanofi. Pertemuan akan dilakukan 19 Mei, setelah CEO Sanofi, Paul Hudson memicu kemarahan bahwa vaksin covid-19 akan diprioritaskan untuk Amerika Serikat (AS).
 
Baca: Investasi Besar, AS Klaim Berhak Lebih Dulu Terima Vaksin Covid-19.
 
Wajar jika Macron marah besar, mengingat bahwa Sanofi adalah perusahaan farmasi multinasional Prancis. Ucapan Hudson bahwa AS akan mendapatkan akses prioritas ke vaksin korona sebelum seluruh dunia dinilai tidak tepat, meskipun AS mengklaim banyak memberikan investasi mengenai pengembangan vaksin itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya pada Kamis 14 Mei Hudson membantah komentarnya sendiri. Dia marah mengenai komentar itu dan dengan mengatakan sangat penting bahwa vaksin korona mencapai semua bagian dunia.
 
"Itu tidak pernah menjadi pilihan antara AS dan Eropa. Saya telah berkampanye untuk kesiapan Eropa untuk mengalahkan virus selama berbulan-bulan dan kita perlu mendapatkan vaksin untuk semua orang di seluruh dunia," kata Hudson dalam sebuah wawancara dengan Financial Times.
 
"Jika vaksin covid-19 berhasil, Sanofi akan memanfaatkan kapasitas produksi globalnya sebagai pembuat vaksin terbesar ketiga di dunia,” ucap Hudson.
 
Satu hari yang lalu, Sanofi memprovokasi kegemparan setelah CEO-nya mengumumkan bahwa regulator Food & Drug Administration (FDA) AS telah memberikan ulasan prioritas untuk produk sutimlimab Sanofi, yang menangani hemolisis pada orang dewasa yang menderita penyakit aglutinin dingin.
 
Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg News, Hudson mengatakan bahwa "pemerintah AS memiliki hak untuk pemesanan di muka terbesar karena ia berinvestasi dalam mengambil risiko”. Ucapan itu merujuk pada pemerintahan Donald Trump telah memperluas kemitraan vaksin dengan perusahaan dan mengharapkan "bahwa jika kami telah membantu Anda membuat dosis berisiko, kami berharap mendapatkan dosis pertama”.
 
Sebagai tanggapan, Perdana Menteri Prancis Edouard Philippe mengatakan akses untuk semua sudah menjadi keharusan. Uni Eropa menegaskan bahwa setiap orang harus mendapatkan akses yang sama ke vaksin.
 
"Vaksin terhadap covid-19 harus menjadi barang publik global dan aksesnya harus merata dan universal," kata Juru Bicara Komisi Eropa, Stefan de Keersmaecker, seperti dikutip kantor berita AFP, Jumat, 15 Mei 2020.
 
Sanofi adalah salah satu perusahaan terbesar yang mengembangkan vaksin. Mereka juga memerlukan bantuan untuk memulai produksi vaksin Keributan itu juga menggarisbawahi ketegangan antara negara dan perusahaan farmasi besar.
 
Data Universitas Johns Hopkins pada Jumat 15 Mei 2020 mengatakan, jumlah kasus positif covid-19 di dunia sudah mencapai 4.443.986. Sementara angka kematian sudah berada di angka 302.468 jiwa dan yang sembuh mencapai 1.588.502 jiwa.
 

 

 

Informasi lengkap tentang perkembangan penanganan pandemi covid-19 bisa langsung diakses di sini (https://www.medcom.id/corona).
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif