Presiden AS Donald Trump. (Foto: AFP)
Presiden AS Donald Trump. (Foto: AFP)

Trump Kecewa Gencatan Senjata Armenia-Azerbaijan Kembali Runtuh

Internasional amerika serikat konflik armenia-azerbaijan azerbaijan Armenia
Willy Haryono • 28 Oktober 2020 11:22
Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku kecewa atas kembali runtuhnya gencatan senjata terbaru antara Armenia dan Azerbaijan untuk zona konflik Nagorno-Karabakh. Padahal, gencatan senjata yang dimediasi AS itu merupakan kali ketiga sejak pertempuran antar keduanya meletus pada 27 September.
 
Kendati gencatan senjata ketiga kembali gagal, Trump optimistis Armenia dan Azerbaijan pada akhirnya akan "kembali berdamai."
 
"Mereka (Armenia dan Azerbaijan) sudah berseteru selama bertahun-tahun lamanya. Tentu saja saya kecewa melihat (kegagalan gencatan senjata) itu," ujar Trump kepada awak media menjelang keberangkatannya menuju acara kampanye di Michigan pada Selasa.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Itulah yang terjadi jika dua negara berseteru sejak lama. Tapi mereka akan kembali berdamai," sambungnya, dilansir dari laman Anadolu Agency pada Rabu, 28 Oktober 2020.
 
Pernyataan Trump disampaikan usai AS memediasi gencatan senjata antar Armenia dan Azerbaijan di Washington pada pekan kemarin. Gencatan senjata itu runtuh usai Azerbaijan menuding Armenia telah melanggar gencatan senjata.
 
Azerbaijan mengklaim bahwa pada Senin kemarin, pasukan Armenia melanjutkan serangan terhadap permukiman sipil dan unit militer, meski gencatan senjata kemanusiaan sudah berlaku.
 
Padahal sebelumnya, Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan berjanji akan mematuhi gencatan senjata yang dimediasi AS.
 
Baca:PM Armenia Pastikan akan Patuhi Gencatan Senjata Terbaru
 
Dua gencatan senjata sebelumnya dimediasi oleh Rusia, yang juga berakhir gagal hanya dalam hitungan hari. Armenia dan Azerbaijan terus saling tuding sebagai pihak yang melanggar gencatan senjata di Nagorno-Karabakh.
 
Nagorno-Karabakh adalah wilayah yang diakui komunitas internasional sebagai milik Azerbaijan, namun selama ini dikuasai etnis Armenia.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif