Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto: AFP)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto: AFP)

Pengamat: Eropa Abai Melihat Erdogan sebagai Ancaman Kawasan

Internasional turki uni eropa
Willy Haryono • 18 Agustus 2020 21:33
London: Banyak keresahan yang muncul dalam beberapa hari terakhir atas tuduhan "kediktatoran elektif" terhadap Presiden Belarusia Alexander Lukashenko yang ingin melanjutkan masa kepemimpinannya ke periode keenam. Uni Eropa telah mengecam pemilihan umum Belarusia pada pekan kemarin karena berjalan tanpa pengawasan memadai.
 
"Kami mengecam dan menolak hasil Pemilu di Belarusia karena tidak bebas atau adil," kata Josep Borrell, Kepala Urusan Luar Negeri UE.
 
Namun kemarahan Eropa dan ancaman sanksi tampaknya kurang didengarkan. Tidak ada yang benar-benar mengharapkan Lukashenko bersikap adil.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Reformasi demokrasi di Belarusia, negara yang dipengaruhi Rusia, bukanlah prioritas UE. Tidak ada minat yang jelas untuk jenis intervensi yang kuat yang mungkin benar-benar membuat perbedaan.
 
Menurut laman The Guardian, belum lama ini, kritik keras Eropa terhadap Lukashenko sangat kontras dengan keengganan mereka secara terbuka mengecam intrik agresif terbaru di kawasan Mediterania timur yang dilakukan pemimpin Turki, Presiden Recep Tayyip Erdo?an.
 
Turki adalah anggota NATO, mitra dagang utama UE, penjaga gerbang perbatasan, dan aktor berpengaruh di Suriah dan Timur Tengah. Tidak seperti Belarusia, ia memiliki kepentingan strategis yang nyata. Mungkin itu menjelaskan keheningan dari banyak pemerintah, termasuk Inggris.
 
Namun demikian, ada satu kesamaan yang terlihat dari kebijakan UE terhadap Belarusia: hanya ada sedikit tanda-tanda tindakan bersama untuk mengekang ekses Erdo?an. Siapa pun yang meragukan cap "diktator" tidak perlu melihat lebih jauh dari undang-undang media sosial baru yang represif dari Turki, yang mereplikasi pengusirannya terhadap media independen tradisional.
 
"Undang-undang tersebut akan meningkatkan penyensoran daring. Otokrasi sedang dibangun dengan membungkam semua suara kritis," kata Tom Porteous dari Human Rights Watch.
 
Dalam pendekatannya ke Turki, seperti dalam hal lain, Presiden Prancis Emmanuel Macron merupakan pengecualian dari aturan Eropa. Juni lalu Macron marah ketika kapal perang Turki mengawal sebuah kapal yang dicurigai menyelundupkan senjata ke Libya. Kapal itu kemudian dicegat oleh fregat Prancis, dan memaksa kapal perang tersebut untuk mundur.
 
Prancis juga geram dengan operasi eksplorasi minyak dan gas Turki yang meluas di perairan teritorial Yunani. Macron kemudian mengirim bala bantuan angkatan laut ke Mediterania timur pekan lalu dan meminta Erdogan untuk mundur.
 
Baik Yunani maupu Turki telah memobilisasi angkatan laut dan udara mereka. Turki mengklaim hukum internasional saat ini yang mengatur simpanan energi landas kontinen secara tidak adil. Sementara Yunani mengatakan wilayahnya sedang diserang.
 
Meski keduanya mengaku lebih memilih dialog daripada konfrontasi militer. Tetapi pada Kamis lalu, saat Ankara bersumpah untuk mempertahankan "hak dan kepentingan," dan Athena memperingatkan tentang meningkatnya bahaya "insiden" militer, dua kapal milik Yunani dan Turki bertabrakan.
 
Krisis yang meningkat, yang juga menyentuh Siprus, Israel dan Mesir, memprovokasi kesibukan kegiatan diplomatik yang dinilai telat pekan lalu. Dewan urusan luar negeri UE bertemu dalam sesi luar biasa. Kanselir Jerman, Angela Merkel, menghubungi Erdogan seperti yang dia lakukan di krisis sebelumnya, mencoba untuk membujuknya. Sedangkan Athena berupaya mencari dukungan ke AS.
 
Ketegangan antara Yunani dan Turki bukanlah hal baru. Tetapi intensifikasi yang mendadak dan provokatif dari perselisihan yang telah berlangsung lama ini merupakan hal yang disengaja.
 
Salah seorang pengamat Timur Tengah, Yavuz Baydar, mempertanyakan motivasi apa yang ingin dicapai oleh presiden Turki.
 
"Ini karena Erdogan merasa tidak aman, sedang dilanda krisis ekonomi, pandemi (covid-19), dan nilai mata uang yang turun, serta ingin memperkuat reputasinya yang dominan sebagai pemimpin kuat dan panglima tertinggi yang menjunjung kehormatan Turki dan tempat yang layak di percaturan dunia," katanya.
 
"Ia perlu mereproduksi citra petualangnya setiap hari," tulis Baydar.
 
Kedua, menurutnya, Erdo?an ingin memastikan posisi Turki di Laut Aegea, Mediterania timur, Suriah dan Libya, serta mengantisipasi perubahan pemerintahan di Washington. Itu karena kandidat calon presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, Joe Biden, dinilai bisa mengubah kebijakan AS di kawasan tersebut.
 
Bagaimanapun, masalah Erdogan di Eropa terus bertambah buruk sejak ia selamat dari plot kudeta 2016. Represi tanpa pandang bulu di dalam negeri, yang melibatkan pemenjaraan puluhan ribu lawan yang nyata dan imajiner, telah diimbangi dengan destabilisasi, petualangan kebangkitan Utsmaniyah di luar negeri.
 
Ditambah dengan nasionalisme yang didorong oleh keyakinan, Erdogan telah melipatgandakan perannya sebagai 'pengganggu' di lingkungan sekitar. Pada Selasa lalu, misalnya, serangan pesawat tak berawak Turki yang dilaporkan di Irak mendapat kecaman dari Baghdad. Insiden tersebut menyusul peluncuran kampanye opsi militer Turki pada Juni terhadap separatis Kurdi yang berbasis di Irak.
 
Di bawah arahan Erdo?an, Turki telah terjun langsung ke dalam perang proksi Libya, berpihak pada kelompok Islamis melawan Mesir, UEA dan Arab Saudi. Sebagian tentang minyak dan bukan tentang kesejahteraan rakyat Libya.
 
Dengan membuka perbatasan Turki dengan UE untuk pengungsi Suriah pada Februari, Erdogan dengan tegas mengingatkan Eropa bahwa dia sepenuhnya siap menggunakan pengungsi sebagai senjata politik. Turki juga terus mengerahkan ribuan pasukan jauh di dalam Suriah utara. Seolah-olah mereka adalah penjaga perdamaian, dalam kenyataannya adalah sebaliknya.
 
Erdo?an mempertahankan keadaan perselisihan yang konstan dengan Israel, sebagian dengan mendukung Hamas. Dia mengecam hubungan Uni Emirat Arab dan Israel sebagai pengkhianatan terhadap Palestina.
 
Langkah pembelian rudal permukaan-ke-udara S-400 oleh Turki, telah membuat anggota NATO bertanya apakah Erdogan dapat dipercaya. Fakta bahwa Presiden AS Donald Trump, yang dipandang sebagian pihak ingin selalu menyenangkan Presiden Rusia Vladimir Putin, gagal mendesak Turki untuk membatalkan kesepakatan tidak akan mencegahnya menjadi poin perdebatan utama jika Biden menang dalam pemilihan umum AS pada November mendatang.
 
Pemimpin Eropa harus menyadari bahwa masalah Erdo?an tidak dapat diabaikan, dihindari, atau diremehkan tanpa batas waktu dengan harapan dia pada akhirnya tersingkir dari dunia perpolitikan Turki. Menurut Baydar, Turki dapat menjadi prospek gangguan yang sangat nyata, langsung, dan berbahaya terhadap Eropa.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif