Presiden AS Donald Trump (kiri) bersama Wapres Mike Pence. (Foto: AFP)
Presiden AS Donald Trump (kiri) bersama Wapres Mike Pence. (Foto: AFP)

Trump Bantah Terima Informasi soal Imbalan Rusia untuk Taliban

Internasional amerika serikat taliban rusia
Willy Haryono • 29 Juni 2020 10:03
Washington: Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah pernah menerima informasi intelijen mengenai dugaan Rusia yang menawarkan uang imbalan kepada militan terkait Taliban untuk membunuh pasukan AS di Afghanistan. Kabar mengenai uang imbalan tersebut pertama kali muncul di media New York Times.
 
"Tidak ada satu orang pun yang menginformasikan kepada saya, atau (wakil presiden Mike) @VP Pence, atau Kepala Staf @MarkMeadows mengenai serangan terhadap pasukan kita di Afghanistan oleh Rusia, seperti yang dilaporkan 'sumber anonim' dari Berita Palsu @nytimes," tulis Trump di Twitter.
 
"Semua orang membantahnya, dan sejauh ini tidak ada banyak serangan (terhadap pasukan AS di Afghanistan)," sambungnya, dilansir dari CGTN, Senin 29 Juni 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Data pemerintah AS mencatat 2019 sebagai tahun paling mematikan bagi prajurit Negeri Paman Sam di Afghanistan sejak 2014. Tahun lalu, 22 tentara AS tewas dalam sejumlah pertempuran di Afghanistan.
 
Tulisan Trump merupakan kelanjutan dari pernyataan Gedung Putih mengenai dugaan adanya uang imbalan Rusia untuk Taliban. Juru bicara Gedung Putih Kayleigh McEnany mengatakan, sejumlah pejabat tinggi AS telah mengonfirmasi bahwa Trump dan Pence sama-sama tidak menerima data intelijen seperti yang disebutkan 'sumber anonim' di New York Times.
 
Jumat kemarin, New York Times melaporkan bahwa Trump telah mendengarkan informasi mengenai unit intelijen Rusia yang secara diam-diam menawarkan imbalan kepada militan terkait Taliban untuk membunuh pasukan AS dan NATO di Afghanistan.
 
Gedung Putih dan Direktur Intelijen Nasional AS membantah laporan tersebut. Kementerian Luar Negeri Rusia dan Taliban juga sama-sama membantah keras.
 
Moskow merasa geram atas laporan New York Times, yang disebutnya hanya akan membahayakan keselamatan seluruh diplomat Rusia.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif