Demonstran menuliskan RIP Rayshard di sebuah restoran cepat saji yang terbakar dekat lokasi terjadinya penembakan terhadap Rayshard Brooks, Minggu 14 Juni 2020. (Foto: ELIJAH NOUVELAGE/AFP/GETTY)
Demonstran menuliskan RIP Rayshard di sebuah restoran cepat saji yang terbakar dekat lokasi terjadinya penembakan terhadap Rayshard Brooks, Minggu 14 Juni 2020. (Foto: ELIJAH NOUVELAGE/AFP/GETTY)

Penembakan Rayshard Brooks Dinilai Berlebihan

Internasional Kematian George Floyd Penembakan Rayshard Brooks
Willy Haryono • 15 Juni 2020 06:33
Atlanta: Penembakan terhadap pria kulit hitam bernama Rayshard Brooks di Atlanta, Amerika Serikat, memicu kecaman keras. Penembakan tersebut kembali menyoroti isu penggunaan kekuatan berlebih oleh kepolisian AS, terutama terhadap pria kulit hitam.
 
Berusia 27 tahun, Brooks tewas ditembak dalam perseteruan dengan polisi di area parkir sebuah restoran cepat saji di Atlanta pada Jumat kemarin. Penembakan terjadi saat gelombang aksi protes mengecam kematian George Floyd masih berlangsung di AS.
 
Pengacara keluarga Brooks, Chris Stewart, menegaskan bahwa aparat keamanan tidak berhak menggunakan kekuatan berlebih. Ia mengatakan meski Brooks sempat mengambil Taser (senjata kejut) milik polisi, bukan berarti ia harus ditembak dengan peluru tajam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Anda tidak bisa sembarangan menembak seseorang, kecuali jika dia menodongkan senjata api," ujar Stewart, dikutip dari BBC, Senin 15 Juni 2020.
 
Wali Kota Atlanta Keisha Lance Bottoms juga mengkritik penggunaan senjata api terhadap Brooks. Ia menilai seharusnya polisi dapat lebih bijak dalam menyelesaikan situasi di lapangan.
 
"Saya yakin ada perbedaan jelas antara apa yang dapat Anda lakukan, dan apa yang seharusnya Anda lakukan," sebut Bottoms.
 
"Menurut saya, penggunaan kekerasan dalam (penembakan Brooks) tidak dapat dibenarkan," lanjutnya.
 
James Clyburn, politikus Partai Demokrat dari South Carolina, juga mengutarakan pendapat senada. "Penggunaan kekuatan mematikan tidak diperlukan dalam kasus ini," tuturnya.
 
Polisi yang terlibat dalam penembakan diidentifikasi sebagai Garrett Rolfe. Bekerja di kepolisian selama 7 tahun, ia langsung dipecat setelah kematian Brooks. Kepala Kepolisian Atlanta Erika Shields juga telah mengundurkan diri.
 
Kematian Brooks memicu unjuk rasa di sejumlah titik di Atlanta, termasuk di lokasi penembakan. Restoran cepat saji Wendy's dekat lokasi penembakan juga dibakar sekelompok demonstran dalam aksi protes akhir pekan kemarin.
 
Berdasarkan catatan ABC News, penembakan Brooks merupakan kali ke-48 yang diinvestigasi Biro Investigasi Georgia (GBI) sepanjang tahun ini. Dari total tersebut, 15 di antaranya berujung fatal.
 
Laporan GBI memperlihatkan rekaman video dari kamera restoran. Dalam video, sejumlah polisi terlihat mengejar Brooks. Dalam pengejaran, Brooks berbalik badan dan mengarahkan sebuah taser ke arah petugas.
 
"Polisi kemudian menembakkan senjatanya," tulis laporan GBI.
 
Dalam video lain yang diambil saksi mata, Brooks terlihat berseteru dengan dua polisi. Brooks terlihat mengambil taser milik polisi kemudian melarikan diri. Suara tembakan kemudian terdengar, dan Brooks terlihat sudah tergeletak di tanah.
 
Ia dilarikan ke rumah sakit, namun dinyatakan meninggal. Salah satu polisi terluka dalam insiden tersebut. Penembakan Brooks terjadi saat gelombang aksi protes mengecam kematian George Floyd masih berlangsung di seantero AS.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif