Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto: AFP)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. (Foto: AFP)

Charlie Hebdo Rilis Kartun Erdogan, Turki Marah Besar

Internasional Kartun Nabi Muhammad Emmanuel Macron Recep Tayyip Erdogan
Willy Haryono • 28 Oktober 2020 08:46
Ankara: Turki marah besar kepada majalah Charlie Hebdo yang dinilai menghina Presiden Recep Tayyip Erdogan melalui beberapa gambar kartun di edisi terbarunya. Turki menuding majalah asal Prancis tersebut telah menyebarkan "rasisme kultural."
 
"Kami mengecam upaya paling menjijikkan ini, yang dibuat hanya untuk menyebarkan rasisme kultural dan kebencian," ujar ajudan senior Erdogan, Fahrettin Altun, via Twitter.
 
"Agenda anti-Muslim Presiden Prancis (Emmanuel) Macron sudah membuahkan hasil! Charlie Hebdo baru saja merilis sebuah seri kartun yang penuh dengan citra buruk mengenai presiden kita," sambungnya, dilansir dari laman France 24.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Karikatur di halaman pertama Charlie Hebdo edisi Rabu ini, 28 Oktober 2020, dirilis pada Selasa malam. Karikatur terbaru Charlie Hebdo memperlihatkan Erdogan memakai baju t-shirt dan celana dalam, yang sedang meminum sekaleng bir serta menarik rok seorang perempuan berhijab.
 
"Ooh, nabi!" ucap karakter karikatur tersebut dengan judul: "Erdogan: secara privat, dia sangat lucu."
 
Edisi kontroversial terbaru Charlie Hebdo keluar di tengah perang kata-kata antara Erdogan, Macron, dan sejumlah petinggi Eropa lainnya terkait karikatur Nabi Muhammad. Karikatur kontroversial itu juga yang memicu pemenggalan terhadap seorang guru di Prancis bulan ini.
 
Macron bertekad bahwa Prancis akan tetap mempertahankan tradisi sekuler dan kebebasan berekspresi, yang mengizinkan perilisan publikasi apapun, termasuk kartun kontroversial dari Charlie Hebdo.
 
Pemenggalan terhadap guru bernama Samuel Paty di Prancis terkait dengan kartun Charlie Hebdo. Ia dipenggal usai sempat memperlihatkan kartun Nabi Muhammad dalam pelajaran kebebasan berekspresi.
 
Macron menyebut pemenggalan terhadap Paty sebagai "serangan teror Islamis" terhadap Prancis. Beberapa hari sebelumnya, Macron juga mengatakan bahwa Islam adalah negara yang "sedang berada dalam krisis."
 
Dua pernyataan Macron tersebut memicu kecaman luas dari dunia Islam, dengan Erdogan sebagai salah satu yang paling vokal. Erdogan bahkan pernah menyarankan agar Macron menjalankan "pemeriksaan mental" atas sikapnya terhadap Islam dan Muslim.
 
Baca:Imbas Kartun Nabi, Prancis Peringatkan Warganya di Indonesia Terkait Ancaman
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif