Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri) saat bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris pada 5 Januari 2018. (LUDOVIC MARIN/AFP/Getty)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri) saat bertemu Presiden Prancis Emmanuel Macron di Paris pada 5 Januari 2018. (LUDOVIC MARIN/AFP/Getty)

Prancis Sambut Baik Gencatan Senjata Verbal dengan Turki

Internasional politik turki turki prancis politik prancis Emmanuel Macron Recep Tayyip Erdogan
Willy Haryono • 19 Juni 2021 19:04
Paris: Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Yves Le Drian menyambut baik berakhirnya perang kata-kata antara negaranya dan Turki, yang selama ini terjadi atas berbagai isu kontroversial. Untuk langkah selanjutnya, Prancis mendorong Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk mengambil inisiatif nyata dalam memperbaiki hubungan kedua negara.
 
"Ada gencatan senjata verbal (antara Prancis dan Turki). Ini adalah hal yang baik, namun belum cukup karena hubungan bilateral kedua negara masih dalam fase pemulihan," ucap Le Drian kepada saluran televisi BFM TV.
 
"Mengakhiri serangan verbal bukan berarti sudah ada aksi nyata. Kami mengharapkan aksi dari Turki atas isu-isu sensitif, terutama mengenai Libya dan Suriah serta Mediterania imur dan Siprus," sambungnya, dilansir dari laman Middle East Monitor pada Sabtu, 19 Juni 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Mari kita semua lihat apakah Presiden Erdogan tidak hanya telah berubah dalam hal kata-kata, tapi juga aksi nyata," tutur Le-Drian.
 
Senin kemarin, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah bertemu Erdogan di Brussels pada Senin kemarin. Pertemuan terjadi usai kedua negara bersitegang atas beragam isu.
 
Macron dan Erdogan kala itu berjanji akan "bekerja bersama" dalam isu Libya dan Suriah.
 
Prancis dan negara-negara lainnya menyerukan agar pasukan asing dan tentara bayaran ditarik penuh dari Libya. Tujuannya, agar situasi berangsur kondusif dan negara tersebut dapat mencapai perdamaian.
 
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengestimasi jumlah pasukan asing dan tentara bayaran di Libya berkisar 20 ribu hingga akhir 2020.
 
Oktober lalu, Erdogan pernah menyerang Macron dengan menyarankannya untuk menjalani "pemeriksaan mental." Kala itu Erdogan menuduh Macron sebagai tokoh yang menghasut "kampanye kebencian" terhadap Islam terkait kontroversi kartun Nabi Muhammad.
 
Baca:  Erdogan Kecam Pandangan Macron soal Sekularisme dan Islam
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif