Peti jenazah George Floyd dibawa dalam prosesi pemakamannya di Minneapolis, AS, 4 Juni 2020. Foto: AFP
Peti jenazah George Floyd dibawa dalam prosesi pemakamannya di Minneapolis, AS, 4 Juni 2020. Foto: AFP

George Floyd Mengubah Dunia

Internasional Kematian George Floyd
Fajar Nugraha • 05 Juni 2020 07:41
Minneapolis: Prosesi pemakaman George Floyd dimulai Kamis 4 Juni waktu Amerika Serikat (AS) atau Jumat 5 Juni waktu Indonesia. Para tokoh hak sipil menilai pria kulit hitam yang dibunuh polisi AS itu telah mengubah dunia.
 
Ratusan pelayat bergabung dalam prosesi pemakaman penuh emosional, ketika pemimpin hak-hak sipil pendeta Al Sharpton bersumpah bahwa protes massa yang dipicu oleh kematiannya akan berlanjut sampai kami mengubah seluruh sistem peradilan di Amerika Serikat”.
 
Baca: Putri Floyd Tuntut Keadilan Atas Kematian Ayahnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pengacara Floyd mengatakan kepada pelayat bahwa ia akan menemukan keadilan bagi pria berusia 46 tahun, yang meninggal dalam penangkapan 25 Mei lalu. Saat itu ketika seorang polisi kulit putih berlutut di lehernya selama hampir sembilan menit.
 
"Bukan pandemi virus korona yang membunuh George Floyd," kata Benjamin Crump, pengacara yang mewakili keluarga Floyd. "Itu adalah pandemi lain. Pandemi rasisme dan diskriminasi,” tegas crump, seperti dikutip AFP, Jumat, 5 Juni 2020.
 
Kerumunan di Minneapolis berdiri diam selama 8 menit dan 46 detik yang dihabiskan petugas Derek Chauvin dengan lutut di leher Floyd. Peristiwa itu terekam jelas dalam video amatir warga.
 
Kematian Floyd telah menyalakan kembali amarah yang telah lama dirasakan atas pembunuhan polisi terhadap warga Afrika-Amerika. Peristiwa ini melepaskan gelombang kerusuhan sipil secara nasional, tidak seperti yang terlihat di AS sejak pembunuhan aktivis HAM Martin Luther King pada 1968.
 
Dengan demonstrasi untuk keadilan rasial menyapu puluhan kota AS dan di seluruh dunia, Sharpton mengatakan kematian Floyd tidak akan sia-sia.
 
"Sudah waktunya bagi kita untuk berdiri atas nama George dan mengatakan lepaskan lututmu," kata pendeta Baptis berusia 65 tahun itu.
 
"Kau mengubah dunia, George. Kita akan terus melawan George. Kita akan terus berjalan sampai kita mengubah seluruh sistem keadilan,” tegas Al Sharpton.
 
"Tidak masalah jika Anda mengenakan celana jins biru atau seragam biru, Anda harus membayar untuk kejahatan yang Anda lakukan," kata Sharpton, membandingkan kematian Floyd dengan kematian seorang pria kulit hitam New York, Eric Garner. Sama seperti Floyd, Garner tewas kehabisan napas dicekik polisi.
 
Anggota keluarga Floyd, Pendeta Jesse Jackson, Gubernur Minnesota Tim Walz, Senator Minnesota Amy Klobuchar dan Wali Kota Minneapolis Jacob Frey termasuk di antara beberapa ratus orang yang menghadiri layanan di North Central University di pusat kota Minneapolis.
 
Kepala polisi Minneapolis Medaria Arradondo berlutut ketika mobil jenazah yang membawa jenazah Floyd tiba untuk layanan itu.


Nasib Trump


Peringatan untuk Floyd juga diadakan di New York dan dihadiri oleh ribuan orang, termasuk saudara laki-laki Floyd, Terrence.
 
“Sikap Kulit Putih adalah Kekerasan,” sebuah tulisan berbunyi. "Buat Amerika Tidak Memalukan Lagi," tulis slogan lain yang lain.
 
Sementara itu seorang senator dari Partai Republik, Lisa Murkowski dari Alaska, mengungkapkan bahwa dia sedang berpikir ulang apakah akan mendukung pemilihan kembali Presiden Donald Trump.
 
Murkowski mengatakan langkahnya itu didorong oleh komentar mantan Menteri Pertahanan Trump James Mattis, yang sehari sebelumnya menyampaikan penilaian menggigit presiden.
 
Mattis menyebut Trump "presiden pertama dalam hidupku yang tidak mencoba menyatukan rakyat Amerika, bahkan tidak berpura-pura mencoba".
 
"Sebagai gantinya, dia mencoba memecah belah kita," sebut jenderal yang dikenal dengan sebut ‘Mad Dog’ itu.
 
"Saya pikir kata-kata Jenderal Mattis benar dan jujur ??serta perlu dan sudah terlambat," kata Murkowski kepada wartawan.
 
Baca: Mantan Menhan Sebut Trump Pecah Belah Rakyat AS.
 
Komentarnya menandai terobosan besar dengan Trump di dalam kubu Partai Republik, yang sebagian besar telah bersatu melalui berbagai krisis termasuk pemakzulannya. Partai Republik juga bersatu mendukung Trump untuk menggunakan kekuatan militer melawan protes.
 
Gelombang protes melanda seantero AS usai George Floyd, seorang pria kulit hitam, meninggal usai lehernya ditindih seorang polisi bernama Derek Chauvin pada Senin 25 Mei.
 
Chauvin dan tiga rekannya telah dipecat dari jajaran Kepolisian Minneapolis satu hari usai kejadian. Keempat anggota polisi yang terlibat kini semuanya didakwa pembunuhan.
 
Hasil autopsi resmi menunjukkan bahwa Floyd meninggal akibat dibunuh, terlepas dari sejumlah kondisi medis yang dideritanya. Terungkap pula bahwa Floyd terinfeksi virus korona.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif