Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto: AFP)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri) dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto: AFP)

Erdogan Sebut Macron Butuh Pemeriksaan Mental

Internasional Emmanuel Macron Recep Tayyip Erdogan
Willy Haryono • 25 Oktober 2020 15:03
Kayseri: Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengecam kebijakan Presiden Emmanuel Macron terhadap kelompok Muslim di Prancis. Erdogan menilai Macron membutuhkan "pemeriksaan mental" atas pandangannya terhadap Muslim.
 
Macron dan Erdogan sering berseteru atas berbagai isu, mulai dari hak maritim di Mediterania Timur, konflik di Libya serta Suriah, serta yang terbaru mengenai ketegangan antara Armenia dan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh.
 
Sementara seruan Erdogan mengenai "pemeriksaan mental" terkait dengan pernyataan Macron atas pemenggalan yang dilakukan seorang pengungsi asal Chechnya terhadap guru di Paris. Macron juga pernah menyebut Islam sebagai agama yang "sedang mengalami krisis."

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Apa yang bisa dikatakan kepada seorang kepala negara yang memperlakukan jutaan warganya yang berbeda-beda agama seperti ini? Pertama, tolong periksakan kesehatan mentalnya," kata Erdogan dalam sebuah pidato di kota Kayseri.
 
Macron berencana memperketat pengawasan aktivitas sekolah agama di Prancis, dan juga mengawasi pendanaan asing terhadap masjid-masjid di Prancis. Rencana disampaikan dalam upaya Macron mencegah terjadinya aksi terorisme yang pernah melanda kantor Charlie Hebdo pada 2015.
 
Mengenai pemenggalan seorang guru yang belum lama ini terjadi di Paris, Macron menyebutnya sebagai "serangan teroris Islamis." Erdogan semakin geram atas pernyataan tersebut.
 
Baca:Polisi Prancis Tahan 15 Orang Terkait Pemenggalan Guru
 
"Sebenarnya apa masalah individu bernama Macron dengan Islam dan Muslim? Macron butuh pemeriksaan mental," ungkap Erdogan.
 
Turki adalah negara dengan mayoritas Muslim, namun menjalankan pemerintahan sekuler. Turki dan Prancis adalah sama-sama anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
 
Menurut Erdogan, Macron tidak akan berjaya dalam pemilihan umum di Prancis pada 2022 mendatang. "Akan ada pemilu (di Prancis), dan kita akan melihat nasib dia nantinya," sebut Erdogan.
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif