Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto: AFP)
Presiden Prancis Emmanuel Macron. (Foto: AFP)

Macron Mengakui Adanya Beberapa Polisi yang Brutal

Internasional prancis Emmanuel Macron
Willy Haryono • 05 Desember 2020 19:05
Paris: Presiden Prancis Emmanuel Macron mengakui bahwa beberapa polisi yang bersikap keras dan brutal memang ada di luar sana. "Ada beberapa polisi yang berlaku kasar, dan mereka perlu dihukum," kata Macron dalam sebuah wawancara dengan penyedia video Brut, dilansir dari laman Yeni Safak pada Sabtu, 5 Desember 2020.
 
Pertanyaan mengenai polisi ditanyakan kepada Macron dalam kaitannya dengan pembongkaran tenda-tenda darurat oleh Kepolisian Paris di area Place de la Republique pada 23 November. Dalam video terlihat polisi bertindak kasar saat membongkar tenda, bahkan saat di dalamnya masih ada imigran yang tertidur.
 
Macron menegaskan bahwa pembongkaran tenda di Place de la Republique adalah tindakan tepat, dan para imigran yang sebelumnya ada di sana kini sudah dipindahkan ke sebuah penampungan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun ia juga mengakui beberapa polisi bertindak berlebihan saat melakukan pembongkaran.
 
"Saat seseorang tidak berkulit putih, ada kemungkinan besar ia akan diperiksa oleh polisi. Ia diidentifikasi sebagai faktor masalah, dan hal seperti itu tidak dapat dibenarkan," ujar Macron.
 
Mengenai Rancangan Undang-Undang Keamanan Polisi, yang melarang individu untuk mengambil foto atau merekam aktivitas polisi di lapangan, Macron menegaskan bahwa RUU itu semata dibuat untuk melindungi aparat keamanan dari perundungan di dunia maya.
 
Ia membantah keras bahwa RUU itu dibuat untuk membatasi kebebasan pers di Prancis. "Itu kebohongan besar. Kami bukan seperti Hongaria atau Turki," ungkap Macron.
 
Saat ditanya mengenai Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang menyebut Macron sebagai "masalah" bagi Prancis, ia berkata: "Saya rasa aksi saling menghina antar pemimpin politik bukan cara yang benar dalam menyelesaikan masalah."
 
"Prancis tidak memiliki masalah dengan Islam. Kami adalah negara yang selalu mengedepankan dialog. Kami membangun republik ini dengan memisahkan agama dari politik," ungkapnya, merujuk pada ketegangan dengan Erdogan seputar isu Islam dan kartun kontroversial Nabi Muhammad.
 
Baca:  Klarifikasi Macron Tak Cukup Redamkan Amarah Umat Muslim
 
(WIL)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif