Menlu Iran Mohammad Javad Zarif dalam sebuah acara di Praha, Republik Ceko. (Foto: AFP)
Menlu Iran Mohammad Javad Zarif dalam sebuah acara di Praha, Republik Ceko. (Foto: AFP)

Iran Geram Dituduh Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi

Internasional arab saudi iran
Willy Haryono • 15 September 2019 21:08
Teheran: Iran geram usai Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo menuduh Teheran berada di balik serangan pesawat tanpa awak alias drone di dua fasilitas minyak milik Aramco, perusahaan asal Arab Saudi.
 
Tuduhan dilontarkan Pompeo meski pemberontak Houthi asal Yaman mengklaim telah mengerahkan "10 drone" dan menyerang dua fasilitas minyak tersebut, yang berlokasi di Abqaiq dan Khurais.
 
"Setelah gagal menjalankan tekanan maksimal, Menteri Pompeo kini menggunakan tipu daya maksimal," tulis Menlu Iran Mohammad Javad Zarif di Twitter, disitat dari laman BBC, Minggu 15 September 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Zarif merujuk pada kebijakan "Tekanan Maksimal" ala AS, biasanya meliputi rangkaian sanksi ekonomi agar pihak terkait mengikuti keinginan Negeri Paman Sam. Sanksi semacam itu dijatuhkan AS kepada Iran usai Presiden Donald Trump secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir 2015.
 
Pompeo mengaku yakin Iran berada di balik serangan karena pihaknya "tidak menemukan ada bukti" bahwa drone yang menyerang fasilitas minyak Saudi berasal dari Yaman.
 
"Menyalahkan Iran tidak akan mengakhiri bencana di Yaman," lanjut Zarif.
 
Saudi mengaku total produksi minyak harian Aramco turun sekitar separuh usai terjadinya serangan drone. Kerugian akibat serangan ditaksir sekitar 5,7 juta barel minyak per hari.
 
Serangan drone sempat memicu kebakaran di dua fasilitas tersebut, meski akhirnya berhasil dipadamkan dalam waktu yang relatif singkat.
 
Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman menegaskan bahwa kerajaan Saudi "siap dan mampu" merespons "agresi teroris" tersebut. Ia telah membicarakan soal serangan ini dengan Trump via sambungan telepon.
 
Abqaiq berlokasi sekitar 60 kilometer dari Dhahran di Provinsi Timur Arab Saudi. Sementara Khurais, yang berjarak sekitar 200 km dari Dhahran, adalah lokasi berdirinya ladang minyak terbesar kedua di kerajaan tersebut.
 
Yaman berada dalam status perang sejak 2015, sejak Presiden Abedrabbo Mansour Hadi dipaksa melarikan diri dari Sanaa oleh Houthi. Arab Saudi mendukung Presiden Hadi, dan membentuk serta memimpin sebuah koalisi untuk melawan Houthi.

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif