Banyak Hewan Mati di Area Konservasi, Pariwisata Afrika Terpukul
Seekor badak di area konservasi benua Afrika. (Foto: AFP/Tony Karumba)
Cape Town: Konservasi hewan di benua Afrika telah mengalami kemunduran dalam beberapa bulan terakhir. Kemunduran mendorong para ahli di konferensi pariwisata Afrika di Cape Town untuk memperingatkan dampaknya bagi industri perjalanan wisata.

"Jelas semua ini negatif," kata Direktur Pelaksana Asosiasi Pariwisata Afrika (ATA) Naledi Khabo, berbicara dalam pembukaan acara yang diselenggarakan perusahaan Airbnb.

"Terlepas apakah itu manusia atau hewan, jika Anda melihat mereka dibunuh atau dibantai dengan cara sangat buruk, jelas memiliki dampak negatif," cetus dia, seperti dinukil dari kantor berita AFP, Minggu 16 September 2018.


Sementara itu, Kenya disorot komunitas global saat berusaha memindahkan badak hitam yang terancam punah di antara taman nasional pada Juni lalu. Sebelas ekor hewan itu mati dalam proses pemindahan.

"Sangat jelas pemindahan itu tidak dikelola dengan baik oleh petugas, dan kami akan mengambil tindak lanjut," kata Menteri Pariwisata Kenya Najib Balala, yang merupakan penanggung jawab dari proyek tersebut.


Najib Balala. (Foto: AFP/RODGER BOSCH)

Balala meyakini wisatawan asing seharusnya tidak akan terpengaruh oleh insiden tersebut. Namun sejumlah pakar industri pariwisata memperingatkan peristiwa semacam itu berpotensi merusak daya tarik Benua Hitam.

"Itu juga berdampak pada persepsi pan-Afrika secara keseluruhan, yang memiliki dampak negatif pada pariwisata," sebut Khabo.

Kerugian akibat kejahatan lingkungan di negara-negara berkembang di dunia diperkirakan mencapai lebih dari USD70 miliar per tahun.

Afrika menjadi pusat perburuan dan perdagangan global dari banyak spesies. Gajah dan badak menjadi dua spesies favorit para pemburu, yang mengincar gading serta cula untuk dijual dalam harga tinggi di pasar gelap.



(WIL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id