Warga sipil di Provinsi Idlib menjadi korban paling dirugikan dalam perang yang terjadi. (Foto: AFP).
Warga sipil di Provinsi Idlib menjadi korban paling dirugikan dalam perang yang terjadi. (Foto: AFP).

28 Orang Tewas dalam Serangan Pemerintah Suriah di Idlib

Internasional krisis suriah konflik suriah
Fajar Nugraha • 14 Juni 2019 18:25
Damaskus: Serangan udara dari Pemerintah Suriah dan Rusia menewaskan sedikitnya 28 orang termasuk tujuh warga sipil. Serangan ini dilakukan meskipun gencatan senjata diumumkan oleh Rusia.
 
“Warga sipil tewas dalam serangan udara yang disertai penembakan di selatan Provinsi Idlib dan utara Provinsi Hama, Kamis 13 Juni,” pernyataan dari organisasi Syrian Observatory for Human Rights atau Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia.
 
“Serangan udara Rusia dan Suriah juga menewaskan 21 kelompok militan dan pemberontak di wilayah yang sama pada hari yang sama,” tambah organisasi yang berbasis di Inggris itu, seperti dikutip AFP, Jumat, 14 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sekitar tiga juta orang warga Idlib seharusnya dilindungi dari serangan besar-besar pemerintah. Hal ini merupakan buah kesepakatan zona penyangga yang ditandatangani Rusia dan Turki pada September.
 
Tapi itu tidak pernah sepenuhnya dilaksanakan, karena para pemberontak menolak untuk mundur dari zona demiliterisasi yang direncanakan.
 
Pada Januari, aliansi Hayat Tahrir al-Sham yang dipimpin oleh mantan afiliasi Al Qaeda Suriah memperluas kendali administratifnya atas wilayah tersebut. Wilayah ini mencakup sebagian besar Provinsi Idlib serta potongan-potongan yang berdekatan dari Provinsi Latakia, Hama, dan Aleppo.
 
“Pemerintah Suriah dan Rusia telah meningkatkan pengeboman mereka di wilayah itu sejak akhir April, menewaskan lebih dari 360 warga sipil,” menurut Observatory.
 
Perang Suriah telah menewaskan lebih dari 370.000 orang dan jutaan orang terlantar sejak dimulai pada tahun 2011 dengan penindasan protes anti-pemerintah.
 
Rusia meluncurkan intervensi militer untuk mendukung pemerintahan Presiden Bashar al-Assad pada tahun 2015, membantu pasukannya merebut kembali sebagian besar negara dari pejuang oposisi dan militan.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif