Deretan pertokoan di Iran dibakar dalam gelombang protes yang telah berlangsung sejak 15 November 2019. (Foto: AFP / ATTA KENARE)
Deretan pertokoan di Iran dibakar dalam gelombang protes yang telah berlangsung sejak 15 November 2019. (Foto: AFP / ATTA KENARE)

Iran Tangkap '100 Pemimpin' Unjuk Rasa BBM

Internasional iran
Willy Haryono • 23 November 2019 12:05
Teheran: Iran mengumumkan telah menangkap sekitar '100 pemimpin' yang beraksi dalam unjuk rasa menentang penjatahan dan penaikan harga bahan bakar minyak. Mereka semua dikabarkan telah ditangkap di "sejumlah tempat" oleh Garda Revolusioner Iran.
 
"Masih ada sekelompok orang lain dalam jumlah besar yang telah diidentifikasi. Mereka semua akan segera ditangkap," ujar juru bicara otoritas hukum Iran, Gholamhossein Esmaili kepada saluran televisi nasional, dan dikutip oleh BBC, Jumat 22 November 2019.
 
Pengumuman muncul saat Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap Menteri Komunikasi Iran atas pembatasan internet selama berlangsungnya demo BBM.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Organisasi Amnesty International mengklaim bahwa lebih dari 100 orang telah tewas dalam unjuk rasa di sejumlah kota di Iran. Beberapa sumber lainnya mengklaim angka kematian lebih tinggi dari itu.
 
Sementara otoritas Iran sejauh ini hanya mengonfirmasi adanya 12 kematian terkait aksi protes BBM.
 
Rabu kemarin, Presiden Iran Hassan Rouhani mengklaim kemenangan atas "rencana musuh" dan "sejumlah elemen" yang disebutnya telah didukung AS, Israel dan juga Arab Saudi.
 
Aksi protes di Iran dimulai sejak Jumat 15 November, setelah pemerintah mengumuman bahwa harga BBM akan dinaikkan 50 persen.
 
Harga BBM di Iran naik menjadi 15 ribu rial per liter atau setara Rp1.691. Para pengguna kendaraan diizinkan membeli hanya 60 liter BBM pada setiap bulannya, sebelum nanti harganya berubah menjadi 30 ribu rial (setara Rp3.384).
 
Teheran menyebut langkah penjatahan dan penaikan BBM ini bertujuan untuk membantu masyarakat kurang mampu. Uang dari hasil kebijakan ini akan disalurkan kepada mereka yang membutuhkan di seantero Iran.
 
Namun penjelasan tersebut tetap tidak dapat menghentikan amarah warga, di tengah kondisi perekonomian Iran yang sudah babak belur dihantam sanksi ekonomi AS. Sanksi itu dijatuhkan kembali oleh AS ke Iran usai Presiden Donald Trump menarik diri dari perjanjian nuklir 2015 tahun lalu.
 
Sanksi ekonomi AS membuat ekspor minyak Iran berantakan; nilai mata uang rial merosot tajam; dan harga-harga kebutuhan pokok meroket.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif