Kapal tanker Grace 1 milik Iran disita oleh Inggris yang memicu upaya sama dari Iran yang menyita kapal Inggris. (Foto: AFP).
Kapal tanker Grace 1 milik Iran disita oleh Inggris yang memicu upaya sama dari Iran yang menyita kapal Inggris. (Foto: AFP).

Krusialnya Selat Hormuz dalam Distribusi Minyak Dunia

Internasional iran
Fajar Nugraha • 12 Juli 2019 15:30
Teheran: Selama hampir sepekan terakhir Selat Hormuz menjadi fokus perhatian dunia. Ini terkait beberapa insiden yang melibatkan alur distribusi minyak dan gas bumi.
 
Berada dekat Iran, di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, Selat Hormuz adalah pintu gerbang penting bagi industri minyak dunia. Lebih dari seperlima pasokan minyak global mengalir melalui saluran laut sempit yang digunakan oleh negara-negara Teluk seperti Iran, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
 
Baca juga: Inggris Sita Supertanker Minyak Iran dalam Pelayaran ke Suriah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jalur air ini secara strategis sangat penting menghubungkan produsen minyak mentah di Timur Tengah dengan pasar utama di seluruh dunia.
 
Menurut Badan Informasi Energi Amerika Serikat atau Energy Information Administration (EIA), aliran minyak harian di Selat Hormuz rata-rata mencapai 21 juta barel per hari pada 2018. Jumlah itu setara dengan sekitar 21 persen dari konsumsi cairan minyak bumi global dan menjadikannya salah satu titik minyak distribusi paling penting di dunia.
 
EIA mendefinisikan Selat Hormuz sebagai chokepoint atau saluran sempit di sepanjang rute laut global yang banyak digunakan dan sangat penting untuk keamanan energi.
 
Oleh karena itu, ketidakmampuan minyak untuk transit melalui chokepoint utama, bahkan sementara waktu, dapat menyebabkan keterlambatan pasokan besar dan biaya pengiriman yang lebih tinggi. Situasi tersebut dapat mengakibatkan harga minyak dunia yang lebih tinggi.
 
Baca juga: Trump Ancam Sanksi Iran terkait Kapal Inggris.
 
Sebagian besar chokepoint dapat dihindarkan dengan menggunakan saluran pengiriman lain tetapi beberapa, seperti Selat Hormuz, tidak memiliki alternatif praktis.
 
Distribusi minyak melalui saluran sempit pada tahun 2018 mencapai sekitar sepertiga dari total minyak yang diperdagangkan di laut secara global. Lebih dari seperempat perdagangan gas alam cair global (LNG) juga transit di wilayah pengiriman Selat Hormuz tahun lalu.
 
Siapa terpengaruh
 
EIA memperkirakan 76 persen dari distribusi minyak mentah dan kondensatnya melalui Selat Hormuz, mencapai pasar Asia pada 2018.
 
Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan dan Singapura mejadi tujuan terbesar distribusi minyak mentah yang melalui Selat Hormuz menuju Asia. “Jumlah ini berarti mencapai 65 persen minyak mentah dan kondensat yang melintasi Selat Hormuz pada 2018,” sebut pernyataan EIA, seperti dikutip dari CNBC.
 
Baca juga: Penyitaan Tanker, AS Berencana Kirim Angkatan Laut.
 
Semntara penggalian ladang minyak yang makin marak di Amerika Serikat memicu peningkatan tajam produksi minyak dan gas bumi. Kondisi ini menyebabkan AS tidak terlalu tergantung dengan impor dari negara Teluk.
 
Menurut EIA, rata-rata impor minyak AS dari negara Timur Tengah pada Maret 2019 tiap harinya mencapai 1,05 juta barel. Angka ini turun dari 3,08 juta barel per hari pada April 203.
 
Pada periode sama, produksi minyak AS meningkat hampir 12 juta barel per hari atau naik 5,73 barel per hari. Meningkatnya produksi minyak dan gas bumi di AS mengubah dinamika pasar dunia, yang umumnya tergantung dari OPEC, selama ini pula di dominasi produsen minyak dari Arab Saudi, Iran dan Venezuela.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif