Warga Suriah masih berkutat dengan konflik yang melanda negaranya setelah ISIS menyerang. (Foto: AFP).
Warga Suriah masih berkutat dengan konflik yang melanda negaranya setelah ISIS menyerang. (Foto: AFP).

Jenderal Inggris Anggap Tak Ada Peningkatan Ancaman Iran

Internasional arab saudi inggris iran
Arpan Rahman • 15 Mei 2019 17:13
Damaskus: Jenderal Inggris dalam koalisi pimpinan Amerika Serikat melawan militan Islamic State (ISIS) mengatakan, tidak ada ancaman yang meningkat dari pasukan yang didukung Iran di Irak atau Suriah.
 
Taklimatnya secara langsung bertentangan dengan pernyataan AS yang dimanfaatkan untuk membenarkan penumpukan militer di kawasan itu.
 
Penilaiannya lantas ditolak oleh Komando Pusat AS. Seorang juru bicara bersikeras bahwa pasukan di Irak dan Suriah berada pada tingkat siaga tinggi karena dugaan ancaman Iran. Versi yang bertentangan dari kenyataan di lapangan menambah kebingungan dan sinyal acak di kawasan Timur Tengah yang tegang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca juga: Arab Saudi Tutup Pipa Minyak usai Diserang Houthi.
 
Mayor Jenderal Christopher Ghika, wakil komandan Operation Inherent Resolve (OIR), koalisi yang melakukan operasi kontra-teroris terhadap ISIS di Irak dan Suriah, berulang ditanyai oleh wartawan tentang ancaman milisi Syiah di Suriah dan Irak. Ancaman tersebut dikutip oleh para pejabat AS selama sepekan terakhir sebagai pembenaran untuk mempercepat penyebaran grup serangan kapal induk di Teluk dan mengirim pesawat pengebom B-52 Stratofortress dan armada anti-pesawat ke wilayah tersebut.
 
"Tidak -- tidak ada ancaman yang meningkat dari pasukan yang didukung Iran di Irak dan Suriah," kata Ghika dalam konferensi video langsung dari Baghdad ke Pentagon.
 
"Kami menyadari keberadaan itu, jelas. Dan kami memantau mereka bersama dengan jajaran lainnya karena itu adalah lingkungan tempat kami berada. Kami memantau kelompok-kelompok milisi Syiah. Saya pikir Anda merujuk dengan hati-hati dan jika tingkat ancaman tampaknya naik maka kami akan meningkatkan langkah-langkah perlindungan pasukan kami," tegasnya, disitat dari laman Guardian, Rabu 15 Mei 2019.
 
Pada Selasa malam, Komando Pusat AS — yang wilayah operasinya meliputi Timur Tengah dan Afghanistan -- mengeluarkan pernyataan yang membantah komentar Ghika.
 
"Komentar baru-baru ini dari wakil komandan OIR bertentangan dengan ancaman kredibel yang diidentifikasi untuk intelijen dari AS dan sekutu mengenai pasukan yang didukung Iran di kawasan itu," katanya.
 
Bantahan itu sangat mencolok karena menyiratkan bahwa Ghika tidak mengetahui keadaan siaga pasukannya sendiri. Komentar luar biasa itu meningkatkan kekhawatiran bahwa intelijen palsu atau berlebihan mungkin digunakan oleh pengamat pemerintah yang dipimpin oleh penasihat keamanan nasional, John Bolton, guna memajukan kasus perang melawan Iran, dengan cara yang mengingatkan pada penumpukan invasi Irak.
 
New York Times melaporkan pada Senin malam bahwa penjabat menteri pertahanan, Patrick Shanahan, telah memberi Gedung Putih sebuah rencana yang melibatkan pengiriman hingga 120.000 tentara ke Timur Tengah jika terjadi serangan Iran atau mencuatnya sejumlah kendala
atas kesepakatan nuklir 2015 yang dibatalkan AS setahun lalu.
 
Donald Trump menolak akun itu sebagai "berita palsu" pada Selasa. “Sekarang, akankah saya melakukan itu? Benar. Tetapi kami belum merencanakan untuk itu," kata Presiden Trump.
 
"Mudah-mudahan kita tidak perlu merencanakan itu dan jika kita melakukannya, kita akan mengirim pasukan yang jauh lebih banyak,” ucap Trump.
 
Para pejabat AS mengatakan ada bukti jelas bahwa Iran sedang membangun kesiapan tempur pasukan proksi dan menyiapkan mereka untuk menyerang pasukan AS di wilayah tersebut.Menlu Mike Pompeo pergi ke Brussels pada Senin buat memberi pengarahan kepada mitranya di Eropa tentang dugaan ancaman.
 
Berbicara di Rusia, Pompeo mengatakan Amerika tidak ingin perang dengan Iran tetapi berjanji terus menekan Teheran.
 
Arab Saudi mengaku pada Selasa bahwa drone bersenjata menyerang dua kilang minyaknya, dua hari setelah dua kapal tanker minyak Saudi disabotase di lepas pantai Uni Emirat Arab.
 
Baca juga: Imam Masjidil Haram Kecam Serangan terhadap Kilang Saudi.
 
Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih, mengatakan bahwa dugaan serangan pesawat tak berawak menyebabkan kebakaran dan kerusakan kecil pada satu stasiun pompa, dan menyiratkan bahwa serangan pesawat tak berawak dan sabotase tanker adalah pekerjaan proksi Iran.
 
Duta Besar Iran untuk PBB, Majid Takht Ravanchi, membantah keterlibatan negaranya atau sekutu regionalnya dalam serangan itu.
 
Pengarahan Pompeo kepada para menlu Eropa di Brussels dilaporkan gagal meyakinkan mereka tentang urgensi ancaman Iran. Mereka mengulangi komitmen atas perjanjian nuklir 2015, dan memperingatkan bahaya konsekuensi yang tidak diinginkan dari peningkatan militer.
 
Spanyol mengumumkan pada Selasa bahwa mereka telah menarik kapal fregat dari armada angkatan laut pimpinan AS di Teluk dengan alasan bahwa mereka telah mengubah misinya dari merayakan 500 tahun perjalanan mengelilingi dunia pertama, menjadi fokus pada dugaan ancaman Iran.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif