Sebuah wilayah di Provinsi Idlib, dihantam serangan udara dari pihak Pemerintah Suriah. Foto: AFP
Sebuah wilayah di Provinsi Idlib, dihantam serangan udara dari pihak Pemerintah Suriah. Foto: AFP

Pemerintah Suriah Tak Berhenti Lakukan Serangan di Idlib

Internasional krisis suriah turki
Fajar Nugraha • 05 Februari 2020 19:11
Idlib: Pasukan Pemerintah Suriah, Rabu 5 Februari, melanjutkan serangan mereka di wilayah barat laut. Serangan telah menyebabkan setengah juta orang kehilangan tempat tinggal dan meningkatkan ketegangan meningkat dengan Turki.
 
Pengeboman udara intensif dan pertempuran darat di wilayah Idlib yang didominasi kelompok militan sejak Desember telah menewaskan hampir 300 warga sipil. Serangan juga memicu salah satu gelombang pemindahan terbesar dalam perang sembilan tahun.
 
PBB dan kelompok-kelompok bantuan mengecam eskalasi dan menyerukan diakhirinya permusuhan di wilayah yang dihuni tiga juta orang. Setengah dari mereka sudah mengungsi dari bagian lain Suriah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada Selasa memperingatkan bahwa negaranya tidak akan mengizinkan pasukan Suriah untuk mendapatkan lebih banyak kekuatan. Erdogan juga menuduh mereka mendorong "orang yang tidak bersalah dan berduka" menuju perbatasan Turki.
 
“Tetapi pasukan pemerintah pada Rabu mendesak dengan serangan ofensif mereka di Idlib. Di mana mereka telah merebut lebih dari 20 kota dan desa dari pemberontak serta militan selama 24 jam terakhir,” menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights ) dan negara kantor berita SANA, seperti dikutip AFP, Rabu 5 Februari 2020.
 
“Dengan kemajuan terbaru mereka, para loyalis Damaskus telah hampir mengepung Saraqeb di Idlib selatan dan sekarang berada dalam satu kilometer dari kota jalan raya strategis yang telah dikosongkan dari penduduknya setelah berminggu-minggu pemboman,” imbuh Observatory.
 
“Pemberontak dan kelompok hanya dapat keluar dari utara, dengan pasukan rezim dikerahkan di semua sisi lain,” menurut kelompok pemantau perang tersebut.
 
Sumber militer yang dikutip oleh SANA Selasa malam mengatakan tentara Suriah memberi musuh-musuhnya di Saraqeb dan daerah-daerah terdekat ‘kesempatan terakhir’. Pemerintah Suriah sebelumnya sudah menyatakan siap untuk merebut kembali Saraqeb. Namun desakannya menghantam sebuah rintangan setelah pasukan rezim bertukar tembakan mematikan dengan pasukan Turki pada Senin.
 
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyebut peningkatan ketegangan ini sangat mengkhawatirkan. Sedangan pihak Turki mengatakan, penembakan yang dilakukan pasukan pemerintah terhadap posisi-posisi Turki di Idlib menewaskan sedikitnya lima tentara Turki dan tiga warga sipil.
 
Observatory melaporkan bahwa tembakan balasan dari Turki menewaskan sedikitnya 13 pasukan pemerintah Suriah. Pertukaran tembakan itu merupakan bentrokan paling mematikan sejak Ankara mengirim pasukan ke Suriah pada 2016.
 
Lebih lanjut menguji koordinasi yang tidak nyaman antara Rusia dan Turki, dua pialang asing utama dalam konflik Suriah. Di bawah kesepakatan 2018 dengan Rusia, Turki mendirikan 12 pos pengamatan militer di Idlib yang bertujuan mencegah serangan penuh oleh pasukan Suriah.
 
Erdogan pada Rabu mendesak Damaskus untuk mundur dari jabatan itu. "Saat ini, dua dari 12 pos pengamatan kami berada di belakang garis batas pemerintah Suriah,” ucapnya.
 
"Kami berharap pihak Suriah akan menarik diri dari pos pengamatan kami sebelum akhir bulan Februari. Jika rmereka tidak mundur, Turki akan diwajibkan untuk mengambil alih urusannya sendiri,” pungkas Erdogan.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif