Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Gedung Ifema Madrid, Spanyol, Rabu 4 Desember 2019. Dok: KLHK
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Gedung Ifema Madrid, Spanyol, Rabu 4 Desember 2019. Dok: KLHK

Teknologi Bantu Nelayan dan Petani Hadapi Perubahan Iklim

Internasional perubahan iklim
Theofilus Ifan Sucipto • 05 Desember 2019 22:49
Madrid: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan gejala perubahan iklim sudah terjadi. Terjadinya fenomena El Nino dan La Nina memiliki pola yang berulang.
 
"Secara statistik periode ulang terjadinya El Nino-La Nina pada periode 1981-2019 mempunyai kecendrungan berulang semakin cepat dibandingkan periode 1950-1980," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Gedung Ifema Madrid, Spanyol, Rabu 4 Desember 2019.
 
Dwikorita mengatakan fenomena itu adalah dampak dari meningkatnya konsentrasi gas rumah kaca (GRK). Menurut dia, konsentrasi GRK paling tinggi dalam sejarah dengan karbondioksida mencapai 405,5 ppm (part per million).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, gas metana menyumbang 1.859 ppb (part per billion), tingkat dinitrogen monosida mencapai 329,9 ppb. Angka itu dinilai tinggi dan mengkhawatirkan.
 
"Catatan tersebut berarti konsentrasi GRK sudah mencapai masing-masing 146 persen, 257 persen, dan 122 persen di atas masa pra revolusi industri," tutur Dwikorita.
 
Teknologi Sebagai Solusi Pemantauan Iklim
 
Menghadapi situasi tersebut, lanjut Dwikorita, Indonesia bakal memanfaatkan teknologi. Menurut dia, teknologi bisa membantu BMKG lebih maksimal dalam memberikan hasil pemantauan iklim dan cuaca.
 
"Indonesia terus memperbaiki teknologi pemantauan iklim dan cuaca," ucap dia.
 
BMKG telah membangun Sekolah Lapang Iklim (SLI) dan menggandeng petani dan nelayan. Dwikorita bilang, kedua profesi itu paling rentan terhadap perubahan iklim.
 
Misalnya, petani Indonesia dulu mengandalkan pengetahuan lokal yaitu pranoto mongso. Pengetahuan itu menjadi panduan petani ihwal waktu tanam, jenis tanaman, dan hal seputar budidaya.
 
"Namun perubahan iklim telah membuat disrupsi pranoto mongso. Ketika masuk waktu tanam, malah tidak bisa karena tidak turun hujan," ucapnya.
 
Di SLI, petani dan nelayan akan diajarkan beradaptasi pada perubahan iklim. Petani balal dibimbing untuk mengembangkan pola budidaya pertanian baru.
 
Sementara itu, nelayan turut dibina untuk memahami cuaca lautan lebih baik dan mengetahui lokasi. Dwikorita menyebut hal itu bisa mengubah paradigma nelayan.
 
"Ini mengubah paradigma nelayan dari mencari ikan menjadi menangkap ikan,” pungkasnya.
 

(BOW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif