Jan Kubis menghadiri sebuah acara di Kirkuk, Irak, 7 Mei 2018. (Foto: AFP/MARWAN IBRAHIM)
Jan Kubis menghadiri sebuah acara di Kirkuk, Irak, 7 Mei 2018. (Foto: AFP/MARWAN IBRAHIM)

PBB Peringatkan Ancaman Gelombang Imigran Baru ke Eropa

Internasional pbb imigran gelap
Arpan Rahman • 11 Februari 2020 17:12
Beirut: Pejabat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon, Jan Kubis, memperingatkan kemungkinan adanya gelombang imigran baru ke Eropa, seperti yang pernah terjadi sebelumnya pada 2015. Kubis berpendapat, krisis keimigrasian seperti itu dapat dihindari asalkan para politisi Lebanon segera mengambil langkah-langkah tegas.
 
Seorang mantan menteri luar negeri Slovakia, Kubis mengatakan kepada Sky News bahwa Lebanon tengah menghadapi level baru dalam hal kericuhan sosial, yang dapat semakin memburuk jika seruan reformasi tidak segera diimplementasikan.
 
"Fase baru krisis (di Lebanon) akan semakin parah tanpa adanya reformasi. Masalahnya akan semakin mendalam," kata Kubis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pernah bertugas di Irak dan Afghanistan, ia mengaku tahu seperti apa bentuk dari sebuah negara yang gagal. Ia memperingatkan bahwa Lebanon sudah hampir menjadi seperti itu.
 
"Tanpa adanya reformasi, krisis saat ini akan berubah menjadi krisis keamanan. Nantinya kita tidak hanya akan melihat banyak pengungsi Suriah, tapi juga yang berasal dari negara lain, termasuk Lebanon," sambungnya, dikutip dari Sky News, Senin 10 Februari 2020.
 
Lebanon dilanda gelombang protes berskala nasional sejak Oktober 2019. Ratusan ribu warga mendesak diakhirinya praktik korupsi dan pembentukan pemerintahan baru yang terdiri dari jajaran teknokrat.
 
Perekonomian Lebanon terus memburuk, dan lebih dari 200 ribu pekerjaan telah menghilang sejak krisis terbaru dimulai. Diperkirakan sekitar 10 persen dari total perusahaan di Lebanon telah bangkrut, dan banyak pegawai yang sudah tidak bekerja atau hanya mendapat gaji yang sudah banyak dipotong.
 
Dua pekan lalu, pemerintahan baru ditetapkan di Lebanon dalam rangka memenuhi tuntutan pedemo. Sebagian besar menteri baru, termasuk Perdana Menteri Hassan Diab, adalah akademisi dan teknokrat.
 
Namun karena pejabat baru itu juga ditunjuk oleh beberapa blok berkuasa di Lebanon, para demonstran belum puas dan masih berunjuk rasa hingga saat ini.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif