Menteri Dalam Negeri Turki, Suleyman Soylu ancam kembalikan anggota ISIS asing ke negaranya. Foto: AFP
Menteri Dalam Negeri Turki, Suleyman Soylu ancam kembalikan anggota ISIS asing ke negaranya. Foto: AFP

Turki Ancam Kembalikan Tahanan ISIS Asing ke Negara Asal

Internasional turki isis
Arpan Rahman • 06 November 2019 17:09
Ankara: Menteri Dalam Negeri Turki, Suleyman Soylu, mengancam akan mengirim tahanan Islamic State (ISIS) asing kembali ke negara asal mereka bahkan jika mereka telah dilucuti kewarganegaraan mereka. Ia sekaligus mengecam pendekatan kebijakan sejumlah negara Eropa tentang masalah ini.
 
"Kami akan mengirim kembali mereka yang kami tahan, tetapi dunia telah menemukan metode baru sekarang: mencabut kewarganegaraan mereka," kata Soylu kepada wartawan, disitat dari Daily Express, Rabu 6 November 2019.
 
"Mereka mengatakan bahwa tahanan harus diadili di tempat mereka ditangkap. Ini adalah bentuk baru hukum internasional, saya kira," sambungnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tidak mungkin menerima ini. Kami akan mengirim kembali anggota ISIS ke negara mereka sendiri apakah mereka mencabut kewarganegaraan mereka atau tidak,” tegas Soylu.
 
Soylu menambahkan sekitar 1.200 anggota ISIS asing, sebagian besar orang barat, saat ini ditahan di penjara Turki.
 
Turki melancarkan serangan kontroversial ke Suriah timur laut terhadap milisi Kurdi YPG bulan lalu, sebuah langkah yang didorong oleh keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menarik pasukan dari wilayah tersebut.
 
Namun serangan itu, memicu kekhawatiran luas tentang nasib tahanan ISIS di wilayah yang sudah bergejolak. YPG adalah elemen utama Pasukan Demokrat Suriah (SDF), yang telah menjadi sekutu kunci AS dalam mendorong ISIS keluar dari Suriah, dan telah menahan ribuan militan di berbagai penjara di timur laut negara itu.
 
Ankara dan sekutu barat Washington telah memperingatkan bahwa operasi militer dapat menghambat perang melawan ISIS dan memungkinkan kebangkitan kelompok militan.
 
Turki, yang menganggap YPG sebagai komplotan teroris yang terkait gerilyawan Kurdi di wilayahnya sendiri, menepis kekhawatiran itu dan berjanji untuk melanjutkan pertempuran melawan ISIS.
 
Turki juga sudah berulang kali menyerukan negara-negara Eropa agar memulangkan warga mereka yang berjuang untuk ISIS.
 
Soylu telah memperingatkan pada akhir pekan bahwa Turki akan mengirim kembali anggota ISIS yang ditangkap oleh pasukan Turki ke negara asal mereka dan mengecam tidak adanya tindakan pemerintah Eropa mengenai masalah ini.
 
“Turki bukan hotel untuk militan,” katanya.
 
Di bawah hukum internasional, seseorang hanya dapat dicabut kewarganegaraannya oleh pemerintah jika hal itu tidak membuat mereka berstatus tanpa kewarganegaraan.
 
Inggris awal tahun ini mencabut kewarganegaraan seorang remaja yang telah meninggalkan keluarganya di London ketika dia baru berusia 15 tahun untuk bergabung dengan ISIS di Suriah.
 
Kasus Shamima Begum memberi sorotan tajam pada masalah keamanan, hukum dan etika yang dihadapi pemerintah Eropa. Tatkala berurusan dengan warga negara yang bergabung dengan barisan kelompok teroris yang bertekad menghancurkan Barat.
 
Pada Agustus, Inggris menanggalkan paspor warga negara lain karena bergabung dengan ISIS. Jack Letts, berkebangsaan ganda Inggris-Kanada, dipenjara setelah ditangkap oleh pasukan Kurdi YPG ketika mencoba melarikan diri dari Turki pada Mei 2017.
 
Pemerintah Kanada mengatakan bahwa Inggris sudah "kehilangan tanggung jawabnya". Prancis, Jerman, dan Denmark juga telah menanggalkan dua warga negara berpaspor mereka karena bergabung dengan ISIS.
 
AS mengatakan bulan lalu bahwa mereka telah membunuh pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi di Suriah barat laut, tempat Turki dan Rusia memiliki pasukan.
 
Tetapi sementara kematian pemimpin ‘kekhalifahan’ dipuji secara global, kelompok itu telah menunjuk seorang pemimpin baru dan berjanji membalas dendam terhadap AS.
 

(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif