Serangan Pemerintah Suriah juga membuat hampir 1 juta orang terlantar. (Foto:Medcom.id)
Serangan Pemerintah Suriah juga membuat hampir 1 juta orang terlantar. (Foto:Medcom.id)

Ribuan Tewas akibat Serangan Udara Pemerintah Suriah sejak April

Internasional krisis suriah
Arpan Rahman • 21 November 2019 19:04
Damaskus: Pengeboman oleh pemerintah Suriah dan pasukan Rusia ke kantong-kantong terakhir oposisi Suriah telah menewaskan lebih dari 1.300 orang sejak April. Serangan Pemerintah Suriah juga membuat hampir 1 juta orang terlantar.
 
The Syria Campaign, sebuah badan amal yang berbasis di Inggris, mengatakan 304 anak-anak dan 11 pekerja penyelamat tewas dalam pengeboman di provinsi Idlib dan wilayah pedesaan di sekitarnya. Beberapa jam setelah angka itu dirilis pada Rabu, serangan oleh pasukan pemerintah dan sekutunya menewaskan sedikitnya 21 warga sipil, termasuk 10 anak-anak, di provinsi Idlib yang dikuasai pemberontak.
 
Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) mengatakan rudal darat-ke-darat yang ditembakkan oleh pasukan pemerintah menghantam sebuah fasilitas bersalin di sebuah kamp sementara untuk para pengungsi yang terletak dekat dengan perbatasan Turki. Rudal itu menewaskan 15 warga sipil, termasuk enam anak-anak, dan melukai sekitar 40 lainnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Presiden Assad dan sekutu Rusia-nya memulai serangan udara dan kampanye darat terbatas terhadap sisa-sisa pasukan oposisi Suriah pada 26 April. Setidaknya 11.500 serangan udara telah dilakukan sejak saat itu, termasuk penggunaan lebih dari 460 bom curah dan 1.280 bom barel, yang ilegal menurut hukum internasional.
 
Bom itu digunakan untuk menyerang infrastruktur sipil seperti sekolah dan rumah sakit. Sekitar 42.000 orang telah meninggalkan rumah mereka dalam sepekan terakhir.
 
"Dengan semakin dekatnya musim dingin, situasinya sangat buruk di kamp-kamp," kata manajer Hurras Child Protection Network Ahmad Arafat seperti dikutip the Guardian pada Kamis 21 November 2019.
 
Kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi oleh Rusia dan Turki pada September tahun lalu seharusnya menyelamatkan Idlib dari serangan pasukan pemerintah. Perjanjian itu batal setelah kelompok garis keras Hayat Tahrir al-Sham (HTS) merebut kendali daerah itu dari kelompok pemberontak yang lebih moderat pada Januari.
 
Badan-badan bantuan memperingatkan sebelum gencatan senjata tahun lalu bahwa serangan terhadap Idlib akan membahayakan 3 juta warga sipil dan memicu bencana kemanusiaan terburuk dalam perang tersebut. Populasi Idlib membengkak dengan datangnya pengungsi dari tempat lain di negara ini.
 

(WAH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif