Menlu Jepang Taro Kono dalam konferensi pers di Moskow, Rusia, 10 Mei 2019. (Foto: AFP/YURI KADOBNOV)
Menlu Jepang Taro Kono dalam konferensi pers di Moskow, Rusia, 10 Mei 2019. (Foto: AFP/YURI KADOBNOV)

Media Diminta Perbaiki Cara Menulis Nama Orang Jepang

Internasional peristiwa unik jepang
Willy Haryono • 22 Mei 2019 12:21
Tokyo: Pemerintah Jepang akan meminta media-media internasional untuk memperbaiki cara menulis nama warga Negeri Sakura sesuai budaya lokal. Dalam budaya Jepang, nama depan seseorang adalah identitas keluarganya, sementara yang kedua adalah nama dirinya.
 
Menteri Luar Negeri Taro Kono -- atau Kono Taro jika sesuai budaya Jepang -- meminta media-media asing untuk mengikuti cara menulis nama tersebut saat melaporkan apapun mengenai Jepang.
 
Sebagai contoh, lanjut dia, nama Perdana Menteri Jepang yang selama ini dituliskan media sebagai Shinzo Abe, sebaiknya ditulis Abe Shinzo di masa mendatang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejumlah pihak menilai permohonan Jepang ini merupakan bagian dari gerakan kubu konservatif yang digerakkan PM Abe. Tujuannya, untuk memperlihatkan kepada dunia mengenai budaya dan sejarah Jepang.
 
Menlu Kono menyarankan agar perubahan penulisan nama ini dikenalkan saat Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Osaka pada akhir Juni. Selain Jepang, Tiongkok dan Korea Selatan serta beberapa negara Asia lain juga menempatkan identitas keluarga di nama depan.
 
"Saya berencana meminta media-media internasional untuk melakukan hal tersebut," ujar Menlu Kono kepada awak media, dilansir dari laman The Guardian, Rabu 22 Mei 2019. Ia juga menyarankan media lokal Jepang yang memiliki layanan Bahasa Inggris untuk mengikuti anjuran tersebut.
 
Praktik menempatkan nama pribadi di bagian depan yang kemudian identitas keluarga mulai diterima di tengah masyarakat Jepang di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Saat itu, Jepang mencontoh budaya Eropa dalam upaya memodernisasi perekonomian dan militer.
 
Secara historis, pendapat warga Jepang terbelah mengenai isu nama ini. Dalam jajak pendapat Agensi Urusan Kebudayaan Jepang pada 2000, 34,9 persen responden lebih menyukai cara penulisan ala Jepang, sementara 30,6 persen memilih gaya Barat dan 29,6 persen tidak mempermasalahkan keduanya.
 
Fasih menggunakan Bahasa Inggris, Menlu Kono memang sejak lama mengungkapkan keinginannya terhadap perubahan ini. Ia pernah mendorong wacana untuk menerapkan perubahan penulisan nama dalam berbagai dokumen resmi kenegaraan. Kartu nama sang menteri bahkan bertuliskan KONO Taro, bukan Taro Kono.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif