Duta Besar RI di Republik Nauru Benyamin Carnadi tawarkan kerja sama konektivitas laut dengan Presiden Nauru  Baron Divavesi Waqa. (Foto: Dok. KBRI Suva).
Duta Besar RI di Republik Nauru Benyamin Carnadi tawarkan kerja sama konektivitas laut dengan Presiden Nauru Baron Divavesi Waqa. (Foto: Dok. KBRI Suva).

Indonesia Tawarkan Kerja Sama Konektivitas Laut ke Nauru

Internasional indonesia-nauru
Fajar Nugraha • 14 Maret 2019 20:05
Yaren: Indonesia menawarkan kerja sama mengatasi konektivitas laut di kawasan negara kepulauan pasifik. Hal ini dipicu keluhan Presiden Nauru Baron Divavesi Waqa, atas mahalnya biaya pengapalan dari Australia ke Nauru.
 
Biaya pengapalan yang mencapai AUD9000 atau Rp90 juta per kontainer dianggap memberatkan Nauru. Adapun kerja sama ini disampaikan Duta Besar RI di Republik Nauru Benyamin Carnadi.
 
Hal ini disampaikan dalam perbincangan Presiden Republik Nauru, Baron Divavesi Waqa dengan Benyamin Carnadi yang baru saja menyerahkan surat-surat kepercayaannya selaku Duta Besar RI kepada Presiden Republik Nauru, di Yaren, Republik Nauru, Rabu 13 Maret 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut Duta Besar Benyamin mengatakan bahwa mahalnya biaya pengapalan ini berimbas kepada harga produk Indonesia yang banyak diimpor oleh negara-negara kepulauan Pasifik seperti Nauru,
 
“Kendala konektivitas ini berimbas pada mahalnya komoditi dan kalah bersaing dengan produk serupa yang masuk dari negara lain, seperti Tiongkok,“ ujar Dubes Carnadi, yang juga mewakili Indonesia di Fiji.
 
Untuk itu, Dubes Carnadi akan menjajaki perusahaan ekspedisi Indonesia yang bersedia membuka jalur pelayaran ke kawasan Pasifik utamanya dari wilayah Timur Indonesia.
 
“Upaya ini diharapkan dapat saling menguntungkan karena akan menghidupkan interaksi ekonomi antara provinsi-provinsi di wilayah Timur Indonesia dengan negara-negara kepulauan di Pasifik Selatan sehingga akan menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru seiring dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur di Timur Indonesia, “ imbuhnya, seperti dikutip dari keterangan tertulis KBRI Suva, yang diterima Medcom.id, Kamis, 14 Maret 2019.
 
Nauru merupakan salah satu negara terkecil di dunia di bawah akreditasi KBRI Suva di Fiji. Wilayah Nauru terdiri dari satu pulau karang Atoll seluas 21 kilometer per segi dengan penduduk kurang lebih 11.000 jiwa. Nauru terletak di Pasifik Selatan berada di tengah-tengahnya antara Australia dan Hawaii.
 
Nauru, negara kepulauan yang terletak di Timur Indonesia ini pernah tajam dalam menyoroti isu penegakan HAM di Papua, namun setelah Presiden Waqa beberapa kali berkunjung ke Indonesia, pemerintahannya memiliki pemahaman yang lebih baik tentang Indonesia dari berbagai aspek, dan sekarang menjadi sahabat Indonesia di Pasifik.
 
Pertemuan antara Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan Presiden Republik Nauru, Baron Divavesi Waqa, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada tahun 2017 lalu telah menghasilkan kesepakatan kerja sama di bidang maritim dan marine resources management.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif