Foto dari rekaman video TKI membanting anak majikan yang baru berusia 5 tahun. Foto: CNA/Facebook.
Foto dari rekaman video TKI membanting anak majikan yang baru berusia 5 tahun. Foto: CNA/Facebook.

Banting Bocah 5 Tahun, TKI di Singapura Dipenjara

Internasional tki singapura
Medcom • 20 Agustus 2019 20:06
Singapura: Seorang tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Singapura, dipenjara karena membanting anak majikannya yang berusia lima tahun. Bocah itu dibantingnya ke tanah sebanyak dua kali.
 
Akibat ulah TKI ini, korban menderita luka dalam di tulang belakangnya. Selain itu, bocah tersebut juga merasakan sakit pada bagian dada.
 
Atas tindakannya itu TKI yang tidak disebutkan namanya itu dipenjara selama delapan bulan sejak Selasa, 20 Agustus 2019. Perempuan berusia 24 tahun itu mengaku bersalah atas tuduhan yang diarahkan kepadanya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ibu korban melaporkan kejadian ini kepada polisi setelah melihat video yang tersebar di Facebook. Seorang warga secara kebetulan merekam kejadian itu dan menyebarkannya.
Undang-Undang Anak-anak dan Remaja.
 
“Saksi itu menyebar klip itu pada kelompok WeChat, termasuk di ‘komunitas ibu Singapura’,” kata Wakil Jaksa Penuntut Umum Ang Siok Chen, seperti dikutip Channel News Asia, Selasa, 20 Agustus 2019.
 
Video itu beredar dan dibagikan di Facebook, di mana ibu korban melihatnya. Dia mengenali putranya dan pengasuhnya. Sehingga, ia pun mengadu pada polisi setempat.
 
Pengadilan mendengar kesaksian bahwa TKI itu tengah mengejar bocah ketika berada di sebuah lapangan di Punggol dengan membawa sebuah bola pada 12 Maret 2019.
 
“Pelaku mengangkat korban tetapi bocah itu meronta. Pelaku pun memukul bokong bocah, namun korban terus meronta hingga ART itu kesal dan dengan sengaja membanting bocah ke tanah,” menurut kesaksian di pengadilan.
 
“Hal ini pelaku lakukan selama dua kali. Kemudian dia membawa bocah itu ke rumah,” lanjut kesaksian itu.
 
Korban mengaku
 
Ketika dia sampai di rumah, bocah laki-laki itu memberi tahu ibunya bahwa TKI itu telah melemparkannya ke tanah. Korban pun merasakan sakit pada bagian dadanya.
 
Namun ucapan korban dibantah oleh pelaku. Dia mengklaim bahwa anak majikannya itu berguling di atas rumput dan sang majikan pun tidak mempermasalahkan hal ini.
 
Namun, insiden itu telah terekam dalam video telepon seluler. Ibu korban melihat rekaman video dan mengenali putra dan pembantu rumah tangga itu.
 
“Dia membuat sebuah laporan pada polisi yang mengatakan bahwa dia baru tahu dari video bahwa anaknya disiksa oleh pembantu rumah tangga,” dikutip dari CNA.
 
Ketika bocah itu dibawa ke rumah sakit pada 15 Maret, seorang dokter menemukan cedera ringan di daerah tulang belakang dan dadanya.
 
Jaksa menyetel rekaman itu di pengadilan pada Selasa. Ia mengajukan delapan hingga sepuluh bulan penjara terkait tindakan pembantu yang sengaja menyebabkan luka pada bocah itu tidak hanya sekali, tetapi dua kali.
 
Pelaku yang tidak terwakili, mengatakan kepada hakim dengan penuh air mata melalui seorang penerjemah bahwa ia ingin meminta maaf kepada majikannya atas apa yang telah ia lakukan dan memohon hukuman yang lebih ringan.
 
Dia bisa dipenjara hingga empat tahun atau didenda maksimal 4.000 Dolar Singapura atau sekitar Rp41,5 juta. Pelaku juga dihukum keduanya karena memperlakukan anak dengan buruk dalam perawatannya.
 

 

Penulis: Rifqi Akbar.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif