Puluhan ribu perempuan Korea Utara dikabarkan jadi korban perdagangan seks di Tiongkok. (Foto: AFP).
Puluhan ribu perempuan Korea Utara dikabarkan jadi korban perdagangan seks di Tiongkok. (Foto: AFP).

Perempuan Korut Jadi Korban Perdagangan Seks di Tiongkok

Internasional korea utara
Arpan Rahman • 20 Mei 2019 17:06
Pyongyang: Puluhan ribu perempuan dan gadis Korea Utara diperdagangkan dan dijual ke perdagangan seks di Tiongkok di mana mereka dipaksa menanggung perkosaan sistemik, perbudakan seksual, dan perdagangan siberseks.
 
Investigasi, oleh Korea Future Initiative, telah mengungkap pola-pola baru pelecehan seksual mengerikan yang dilakukan terhadap para perempuan dan gadis Korut yang diperdagangkan di Tiongkok daratan. Ditemukan bahwa perempuan juga menjadi korban perdagangan seks,
pelecehan seksual, pelacuran, dan pernikahan paksa di sana.
 
"Dilemparkan dari tanah air mereka oleh rezim patriarkal yang bertahan berkuasa melalui pemaksaan tirani, kemiskinan, dan penindasan, perempuan dan gadis Korut diperdagangkan melalui tangan penyelundup, calo, dan organisasi kriminal," kata laporan itu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Sebelum ditarik ke perdagangan seks Tiongkok, di mana mereka dieksploitasi dan digunakan oleh laki-laki sampai tubuh mereka terkuras," bunyi laporan tersebut, dikutip dari laman Independent, Senin 20 Mei 2019.
 
Bagian dari penelitian menemukan "jaringan kriminalitas yang kompleks dan saling berhubungan" menghasilkan sekitar USD105 juta atau setara Rp1,52 triliun per tahun dari "penjualan tubuh wanita Korut".
 

"Eksploitasi wanita dan gadis Korut menghasilkan keuntungan tahunan setidaknya USD105 juta untuk dunia hitam Tiongkok. Para korban dilacurkan hanya seharga 30 Chinese Yuan (USD4), dijual sebagai istri seharga 1000 Chinese Yuan (USD146), dan diperdagangkan ke sarang siberseks untuk dieksploitasi oleh audiens online global,” ujar Yoon Hee-soon, penulis laporan dan peneliti di Korea Future Initiative.
 
"Umumnya berusia antara 12-29 dan masih polos, para korban dipaksa, dijual, atau diculik di Tiongkok atau diperdagangkan langsung dari Korut. Banyak yang dijual lebih dari satu kali dan dipaksa menjadi setidaknya satu bentuk perbudakan seksual dalam setahun setelah meninggalkan tanah air mereka,” imbuhnya.
 
Hee-soon menyebutkan bahwa prostitusi telah menyalip perkawinan paksa sebagai "jalur utama" ke dalam perdagangan seks bagi wanita dan gadis Korut.
 
"Diperbudak di rumah-rumah bordil yang mengotori kota-kota satelit dan kota-kota kecil dekat dengan daerah perkotaan besar di timur laut Tiongkok, para korban sebagian besar berusia antara 15-25," tambahnya.
 
Perdagangan siberseks adalah "komponen kecil, belum sempurna, tetapi berkembang" dalam perdagangan untuk wanita Korut, katanya. Gadis-gadis berusia belia sekitar sembilan tahun dipaksa melakukan tindakan seks dan mengalami pelecehan seksual di depan kamera web, tambahnya, yang disiarkan langsung ke audiens global yang membayar.
 
Peneliti mencatat bahwa pernikahan paksa terus menjadi komponen abadi dari perdagangan seks Tiongkok dan masalah ini masih ada di daerah pedesaan dan kota-kota. Wanita Korut terus "dibeli, diperkosa, dieksploitasi, dan diperbudak" oleh suami Tiongkok.
 
Laporan tersebut berpendapat bahwa fakta akan Korea Future Initiative -- sebuah organisasi non-pemerintah kecil yang tidak mendapatkan dana atau dukungan dari pemerintah, berbagai lembaga hak asasi manusia, atau badan pemberi hibah -- dapat mengungkap pelanggaran yang terutama diabaikan oleh masyarakat internasional harus berfungsi sebagai insentif bagi orang lain.
 
Korea Future Initiative menjadi nirlaba berbasis di London yang membantu warga Korut dalam bahaya dan menerbitkan laporan tentang pelanggaran hak asasi manusia guna mendukung ganti rugi bagi orang-orang buangan. Temuan laporan ini adalah hasil dari keterlibatan
jangka panjang dengan para korban yang tinggal di Tiongkok dan orang-orang yang selamat dari pengasingan di Korea Selatan. Sekaligus menandai kali pertama mayoritas orang yang diwawancarai merasa mampu berbicara tentang pengalaman mereka tentang kekerasan seksual dan perdagangan seks.
 
Sebuah laporan oleh Human Rights Watch dari November tahun lalu menemukan para pejabat Korut melakukan pelecehan seksual terhadap wanita dengan impunitas total dan pelecehan seksual yang mendekati sangat lazim sehingga telah dinormalisasi.
 
Laporan itu mengungkapkan wanita di negara itu secara rutin dipaksa menanggung kekerasan seksual oleh pejabat pemerintah, polisi, penjaga penjara, interogator, dan tentara. Masyarakat yang sangat patriarkis berarti banyak wanita malu atas pelecehan yang mereka alami dan merasa tidak mampu menuntut pertanggungjawaban -- memutuskan bungkam karena lemahnya penegakan hukum dan layanan dukungan.
 
Laporan seperti ini jarang terjadi. Pasar gelap yang telah menjadi sumber pendapatan penting bagi banyak keluarga adalah area di mana kekerasan seksual lazim terjadi.
 

"Mereka menganggap kami mainan seks. Kami berada di tangan manusia," Oh Jung-hee, seorang mantan penjaja berusia 40-an, mengatakan kepada para peneliti.
 
"Itu sering terjadi sehingga tidak ada yang berpikir itu masalah besar. Kami bahkan tidak menyadari ketika kami marah. Tetapi kita adalah manusia, dan kita merasakannya. Jadi kadang-kadang, entah dari mana, Anda menangis di malam hari dan tidak tahu mengapa," pungkasnya.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif