Diskusi di Ruang Bersama Ke:Kini, Cikini Raya, Jakarta, Senin 27 Januari 2020. (Foto: Medcom.id/Arpan Rahman)
Diskusi di Ruang Bersama Ke:Kini, Cikini Raya, Jakarta, Senin 27 Januari 2020. (Foto: Medcom.id/Arpan Rahman)

Pekerja Migran Harus Dijauhkan dari Stigma Pembawa Penyakit

Internasional tki virus korona
Arpan Rahman • 28 Januari 2020 19:43
Jakarta: Penyakit mematikan akibat virus korona menjalar begitu cepat dari Tiongkok ke berbagai penjuru dunia. Korban tewas terakhir mencapai 106, dan yang terinfeksi lebih dari 4.000 orang. Virus kini telah menyebar ke 16 negara.
 
Migrasi virus maut tersebut dinilai perlu ditanggapi dalam konteks perlindungan pekerja migran Indonesia, terutama sebagai proteksi untuk mereka yang berada di sekitar Tiongkok. Apalagi pekerja migran berisiko terkena stigma sebagai pembawa virus menurut pengalaman sebelumnya dari kasus MERS, SARS, dan HIV/AIDS.
 
"Saya kira, isu korona itu sangat penting untuk direspons juga dalam konteks perlindungan pekerja migran. Kita pernah memiliki kasus yang sama, yakni isu MERS (flu Timur Tengah), kemudian juga SARS (flu Hong Kong). Kita harus belajar dari situ agar pemerintah tidak salah mengambil kebijakan. Karena pernah kebijakan yang diambil itu sebagai respons untuk SARS ternyata kebijakannya kemudian malah cenderung menimbulkan stigma terhadap pekerja migran," kata Direktur Eksekutif Migrant CARE, Wahyu Susilo, menjawab pertanyaan Medcom.id, Senin 27 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bahkan dalam isu SARS, waktu itu tahun 2003, ada satu pemerintah daerah, Pemda Kabupaten Kendal, mengeluarkan peraturan bupati kalau TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang baru pulang dari Hong Kong tidak boleh keluar rumah selama lima hari," sambungnya, dalam diskusi di Ruang Bersama Ke:Kini, Cikini Raya, Jakarta.
 
Menurut Wahyu, dalam konteks penyakit menular seperti virus korona n-CoV, pekerja migran rentan terpapar banyak dari mereka berada di kawasan sekitar Tiongkok seperti Taiwan dan Hong Kong. Kemudian meskipun tidak banyak, namun ada juga beberapa pekerja migran Indonesia di Tiongkok. Kehadiran di area rawan tersebut berpotensi menimbulkan stigma bahwa para pekerja migran berpotensi membawa penyakit ke Indonesia.
 
"Demikian juga misalnya kasus lama, yang kadang-kadang tidak disadari saja, stigma pekerja migran membawa HIV/AIDS. Sampai sekarang, kalau ke provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) atau NTB, stigma itu masih terbawa kalau kita berdiskusi dengan kepala dinas kesehatan dan dinas tenaga kerja setempat," cetus Wahyu.
 
Ia melanjutkan bahwa selain mengenai hubungan perburuhan, isu penyakit juga perlu ditekankan. Ini dikarenakan pekerja migran juga berhak untuk hidup sehat. "Kita juga perlu memperkuat pengetahuan kita tentang ragam isu baru yang pengaruhnya juga akan sangat kuat dalam kaitan dengan migrasi," ujar dia.
 
Terkait perkembangan terbaru, kementerian dan lembaga pemerintahan Indonesia menggelar rapat koordinasi untuk membahas penyebaran virus korona nCov. Rapat koordinasi di Jakarta, Selasa 28 Januari 2020, dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy.
 
Rapat dihadiri Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto, dan Menteri Komunikasi dan Informatika Jhonny G Plate, juga beberapa pimpinan lembaga. Salah satu bahasan rapat adalah mengenai pemberian bantuan bahan pokok kepada 100 WNI yang berada di Wuhan.
 
Dibahas juga mengenai rencana mengevakuasi mereka semua, meski sampai saat ini masih terbentur perizinan Tiongkok karena kota Wuhan masih ditutup rapat.

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif