Dua WNI Dibebaskan dari Hukuman Mati Pulang ke Tanah Air
Dua WNI tiba di Jakarta. (Foto: Dok. PWNI Kemenlu RI)
Jakarta: Kementerian Luar Negeri RI melakukan serah terima dua Warga Negara Indonesia (WNI) yang baru dibebaskan dari ancaman hukuman mati di Arab Saudi.

Dua WNI ini bernama Sumiati dan Masani yang berasal dari Sumbawa Besar. Keluarga keduanya juga datang untuk menjemput di Bandara Soekarno Hatta Tangerang.

"Sejak awal diberitahukan mengenai bebasnya kedua WNI dari ancaman hukuman mati, keluarga sangat antusias untuk bertemu. Keluarga mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas kerja kerasnya membebaskan keduanya dari ancaman hukuman mati," kata case officer Kementerian Luar Negeri Chairil Anhar Siregar dalam keterangan tertulisnya kepada Medcom.id, Jumat 8 Juni 2018.


Sumiati dan Masani datang pertama kali ke Arab Saudi tahun 2011 untuk bekerja pada majikannya di Dawadmi, 300 KM dari Riyadh. Keduanya ditangkap 27 Desember 2014 atas tuduhan bersekongkol melakukan sihir sehingga menyebabkan anak majikan sakit permanen dan lalai menyuntik insulin ke tubuh ibu majikan, seorang penderita diabetes, hingga mengakibatkannya kematian. 

KBRI Riyadh pun baru mengetahui kasus kedua WNI saat melakukan kunjungan rutin ke Penjara Dawadmi pada 23 November 2015. Terkait kejadian tersebut, anak korban mengajukan tuntutan hukuman mati qishas terhadap kedua WNI. Namun demikian, pada akhir 2016, Pengadilan Dawadmi memutuskan menolak tuntutan ahli waris tersebut.

Dengan keputusan tersebut KBRI mengupayakan agar kedua WNI diijinkan oleh Kepolisian Dawadmi untuk ditampung di penampungan sementara KBRI Riyadh. Untuk itu KBRI telah memberikan jaminan kesanggupan untuk menghadirkan kedua WNI dalam setiap proses hukum di Dawadmi.

Baca: Dua WNI Berhasil Lolos dari Hukuman Mati di Arab Saudi

Meskipun Pengadilan Dawadmi telah menolak tuntutan hukuman mati namun ahli waris mengajukan banding. KBRI Riyadh memberikan pendampingan secara intensif selama dua setengah tahun hingga akhirnya pada akhir 2017 Pengadilan Banding di Dawadmi mengeluarkan putusan yang menegaskan putusan sebelumnya yaitu menolak tuntutan hukuman mati. 

Selain karena tidak cukup bukti, penolakan hakim terhadap tuntutan hukuman yang diajukan oleh anak korban juga didasarkan pada fakta bahwa salah seorang ahli waris lainnya, yaitu adik korban, telah mencabut runtutan hukuman mati tanpa kompensasi. Dalam sistem peradilan pidana Arab Saudi, jika salah seorang ahli waris memberikan pemaafan maka dengan sendirinya menggugurkan tuntutan hukuman mati hak khusus. 

Dengan keputusan pengadilan banding telah berkekuatan hukum tetap, KBRI segera mengurus administrasi exit permit keimigrasian bagi kedua WNI. Selanjutnya pada tanggal 6 Juni akhirnya keduanya dapat diterbangkan dari Riyadh ke Jakarta via Dubai, didampingi oleh Atase Hukum KBRI Riyadh.

Sejak tahun 2011 hingga saat ini, Kementerian Luar Negeri menangani sekurangnya 662 WNI yang terancam hukuman mati di berbagai negara sebagian besar di Malaysia.

Dari jumlah kasus tersebut pemerintah telah berhasil membebaskan 484 WNI dari ancaman hukuman mati. Di Arab Saudi dengan bebasnya Sumiati dan Masani maka saat ini masih terdapat 18 WNI yang terancam hukuman mati. 

Lebih jauh pemerintah menyatakan akan terus memberikan pendampingan hukum bagi WNI yang terancam hukuman mati. Pendampingan tersebut diberikan dalam rangka memastikan hak-hak hukum seorang WNI dipenuhi sepanjang berlangsungnya proses hukum.




(SCI)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id