Demonstran berunjuk rasa di West Kowloon, Hong Kong, 7 Juli 2019 malam. (Foto: AFP/HECTOR RETAMAL)
Demonstran berunjuk rasa di West Kowloon, Hong Kong, 7 Juli 2019 malam. (Foto: AFP/HECTOR RETAMAL)

Demonstran Tidak Percaya RUU Ekstradisi Hong Kong 'Mati'

Internasional hong kong
Willy Haryono • 09 Juli 2019 12:44
Hong Kong: Grup utama di balik gelombang unjuk rasa masif di Hong Kong menolak pernyataan pemimpin kota otonom tersebut, Carrie Lam, yang mengatakan bahwa Rancangan Undang-Undang Ekstradisi sudah "mati."
 
Civil Human Rights Forum tidak memercayai hal itu, dan bertekad akan meneruskan aksi protes di seantero Hong Kong.
 
"Jika lima tuntutan kami masih belum juga didengar Carrie Lam dan pemerintahannya, maka Civil Human Rights Forum akan terus menggelar protes dan pertemuan," ucap juru bicara grup tersebut, Bonnie Leung, kepada awak media.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dikutip dari laman AFP, Leung menambahkan bahwa detail mengenai rencana demonstrasi terbaru akan dirilis dalam waktu dekat.
 
Baca:Pemimpin Hong Kong Tegaskan RUU Ekstradisi Sudah 'Mati'
 
Lima tuntutan utama demonstran Hong Kong adalah penarikan penuh RUU Ekstradisi; investigasi aksi kekerasan polisi dalam menangani unjuk rasa; pengunduran diri Carrie Lam; pembebasan sejumlah pedemo; dan menghilangkan pelabelan aksi protes massa sebagai kerusuhan.
 
Hong Kong dilanda krisis terbesar di era modern saat ribuan hingga jutaan berunjuk rasa sejak satu bulan terakhir. Aksi protes kerap berujung bentrok dengan aparat keamanan.
 
Demonstran bahkan pernah merusak kaca gedung parlemen dan menerobos masuk. Unjuk rasa terus berlangsung meski Carrie Lam telah menunda proses pengesahan RUU Ekstradisi.
 
Demonstran Tidak Percaya RUU Ekstradisi Hong Kong 'Mati'
Infografis Carrie Lam. (Foto: AFP)
 
RUU Ekstradisi ditentang keras karena demonstran khawatir Hong Kong akan menjadi seperti kota-kota di Tiongkok. Jika RUU itu disahkan, maka seseorang yang tersangkut kasus hukum di Hong Kong berpotensi diadili di Negeri Tirai Bambu.
 
Dalam konferensi pers terbaru, Carrie Lam mencoba menurunkan ketegangan lewat pernyataan bernada mendamaikan. "Saya menyadari bahwa ada masalah fundamental dan mendalam di tengah masyarakat Hong Kong," sebut dia.
 
"Mungkin saja masalah itu ada di bidang perekonomian, atau mungkin kesejahteraan, atau perpecahan politik," lanjutnya.
 
Hong Kong dikembalikan oleh koloni Inggris ke Tiongkok pada 1 Juli 1997. Namun, kota ini dikelola terpisah di bawah pengaturan skema 'Dua Sistem, Satu Negara.'

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif