Bendera AS dan Tiongkok terpasang di sebuah hotel di Beijing, 14 Mei 2019. (Foto: AFP/GREG BAKER)
Bendera AS dan Tiongkok terpasang di sebuah hotel di Beijing, 14 Mei 2019. (Foto: AFP/GREG BAKER)

Tiongkok Desak AS Segera Batalkan Penjualan Senjata ke Taiwan

Internasional amerika serikat taiwan
Willy Haryono • 09 Juli 2019 16:00
Beijing: Pemerintah Tiongkok mendesak Amerika Serikat untuk "segera membatalkan" rencana penjualan senjata senilai USD2,2 miliar (setara Rp31 triliun) ke Taiwan. Beijing menilai penjualan tersebut merupakan pelanggaran berat terhadap kedaulatan Negeri Tirai Bambu.
 
Kementerian Luar Negeri AS telah menyetujui rencana penjualan senjata ke Taiwan, yang meliputi ratusan unit tank tempur dan misil anti-pesawat.
 
"Penjualan senjata oleh Amerika Serikat ke Taiwan benar-benar melanggar prinsip Satu Tiongkok, mencampuri urusan dalam negeri dan mengganggu kedaulatan serta kepentingan Tiongkok," tegas juru bicara Kemenlu Tiongkok Geng Shuang, disitat dari laman AFP, Selasa 9 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Geng menambahkan, Tiongkok telah melayangkan keluhan formal via saluran diplomatik. Keluhan mengekspresikan "penentangan penuh" terhadap penjualan senjata dari AS ke Taiwan.
 
"Tiongkok mendesak AS untuk segera membatalkan rencana penjualan senjata dan juga menghentikan hubungan militer dengan Taipei, demi menghindari rusaknya kemitraan Sino-AS serta perdamaian dan stabilitas di Selat Taiwan," kata Geng.
 
Menurut keterangan Agensi Kerja Sama Keamanan Pertahanan (DSCA), rencana penjualan senjata meliputi 108 unit tank jenis M1A2T Abrams, 250 misil anti-pesawat tipe Stinger dan sejumlah perlengkapan terkait lainnya.
 
DSCA menilai penjualan senjata ke Taiwan ini tidak akan "mengubah keseimbangan militer" di kawasan. Kongres AS telah mendapat informasi mengenai rencana penjualan ini, dan memiliki waktu 30 hari untuk menolak atau menerimanya.
 
Taiwan menjalankan pemerintahannya sendiri secara terpisah dari Tiongkok sejak berakhirnya perang sipil 1949. Namun Tiongkok menganggap Taiwan sebagai wilayah yang perlu disatukan kembali, bahkan dengan kekerasan jika memang diperlukan.
 
Januari lalu, Presiden Tiongkok Xi Jinping mengaku tetap mempertimbangkan kekuatan militer sebagai salah satu opsi untuk memastikan reunifikasi Taiwan.
 
"Kami tidak bisa berjanji tidak akan menggunakan kekuatan (militer). Beijing mempertimbangkan semua opsi dan langkah terhadap kekuatan asing yang mengintervensi reunifikasi damai dan aktivitas separatisme kemerdekaan Taiwan," ujar Xi kala itu.
 
Baca:Tiongkok Tetap Pertimbangkan Opsi Militer Atas Taiwan
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif